Persisnya di Desa Sungai Durian. Sekitar 33 meter dari pusat kabupaten. Berdekatan dengan perbatasan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Karena nilai sejarahnya, As-Syuhada yang berdiri di atas lahan seluas 25 x 25 meter itu telah ditetapkan pemerintah sebagai situs cagar budaya.
Di sini bisa dijumpai guci tua untuk menampung air wudu, tangga muazin, dan empat tiang soko guru.
Masdulhak Abdi, budayawan yang menuliskan kisah masjid ini dalam bukunya mengatakan, Masjid As-Syuhada sudah berumur seabad lebih.
Dibuktikan oleh hasil penelitian benda-benda di masjid ini. "Dibangun sekitar tahun 1901," ujarnya kepada Radar Banjarmasin.
Masyarakat setempat menuturkan, ada sembilan batang besar kayu ulin yang dipakai masjid ini. Empat menjadi tiang utama, selebihnya untuk membangun pondasi.
"Tiang-tiang ulin itu dibawa dengan berjalan kaki sejak bakda isya dari Muara Uya sampai ke Sungai Durian, baru tiba besok pagi hari," jelasnya.
Kisah Masjid As-Syuhada tak bisa dilepaskan dari sosok seorang ulama, Kiai Sulaiman Yasin.
Kiai Yasin berdakwah dengan gigih. Hingga membuat masyarakat Sungai Durian terkenal saleh. Ketika wafat, beliau dimakamkan di lingkungan sekitar masjid.
"Zaman dahulu, Sungai Durian pernah diberi gelar Kampung Serambi Makkah. Saking banyaknya orang alim di sana," kata Masdulhak. (ibn/gr/fud) Editor : Arief