Tak hanya pada ekonomi, karet juga berpengaruh terhadap kebudayaan masyarakat Tabalong.
Budayawan lokal Masdulhak Abdi mengatakan, ada satu permainan rakyat yang kerap dimainkan anak-anak Tanjung. Namanya bacirak.
"Bacirak ini salah satu permainan tradisional Suku Banjar di Tabalong, meskipun di sejumlah daerah lain di Kalimantan Selatan juga ada yang memainkannya," ungkapnya.
Permainan ini menggunakan biji dari buah pohon karet. Dalam bahasa Banjar disebut "bigi para".
Anak-anak memperoleh biji-biji karet itu di tengah kebun karet milik orang tua mereka. Ketika orang tua mereka sedang menoreh (menyadap) karet, anak-anaknya mencari dan memungut biji karet yang berjatuhan di tanah.
Bagaimana cara memainkannya? Masdulhak menjelaskan, perlu sebilah bambu atau serpihan papan kayu, dan sebongkah batu kecil.
"Fungsinya untuk melempar," ujarnya. Tentu juga dibutuhkan lawan tanding. Bacirak bisa dimainkan dua hingga sepuluh orang.
"Cara mainnya, letakkan bilahan bambu di atas dua buah batu secara melintang. Lalu masing-masing anak menaruh beberapa buah biji karet di atas bilahan bambu tadi," terangnya.
Pemain kemudian mengambil jarak dari bilahan bambu. Jaraknya sesuai kesepakatan. Biasanya sekitar sepuluh meter. Makanya bacirak memerlukan tanah lapang yang cukup luas.
Sebelum dimulai, anak-anak mengundi siapa yang berhak lebih dahulu melemparkan batu dengan suit atau hompimpa--sampai masing-masing anak mendapat nomor urutannya.
Siapa yang lemparannya jitu dan dapat mengenai bilahan bambu, berapapun biji karet yang terjatuh, itu menjadi kepunyaan si pemain yang mampu menjatuhkannya.
"Begitu seterusnya sampai biji karet yang berada di atas bilahan bambu tadi habis," imbuh Masdulhak.
Permainan ini dapat diulang terus menerus sesuai keinginan semua peserta, sampai salah satu anak kehabisan biji karetnya.
Pengumpul biji karet terbanyak pun resmi menjadi pemenang.
Ditambahkan Masdulhak, bacirak sebetulnya juga bisa dimainkan dengan biji kemiri yang masih utuh cangkang kerasnya sehingga bentuknya sama seperti biji karet.
Hanya saja, di era digital seperti sekarang, permainan ini sudah semakin jarang dan langka di tengah anak-anak. (ibn/gr/fud)
Judul sambungan: Bisa Pula dengan Biji Kemiri Editor : Arief