Konon nama Kaliwang merupakan nama suatu wilayah di antara Desa Wawai dan Desa Nateh di Kecamatan Batang Alai Timur.
Tarian ini memiliki gerakan yang lincah, gagah dan energik. Sebagai makna simbolik bahwa pemuda-pemuda Dayak itu kuat dan mampu menghadapi tantangan dengan selalu bersatu, bersama-sama mempertahankan tanah adatnya.
Salah seorang seniman yang tergabung dalam Perpedayak, Ferian menceritakan, gerak tarian ini menampilkan kegagahan dan kewibawaan para pemuda Dayak dalam menjaga dan melestarikan hutan di pegunungan Kalimantan.
"Ini merupakan tarian kreasi. Sudah dipadukan dengan konsep modern. Terdiri dari lima atau lebih penari. Mereka menunjukkan aksinya masing-masing tanpa koreografi senada," jelasnya kepada Radar Banjarmasin, Selasa (6/6).
Di situlah letak perbedaan Tarian Rajang Kaliwang dengan seni tari lainnya, seperti Baksa Kembang dan Radap Rahayu. Kedua jenis tarian ini punya koreografi yang seirama. Walaupun bisa dikreasikan.
Sedangkan Rajang Kaliwang sepenuhnya adalah tari kreasi. Tidak ada pakem yang mengikat.
"Di sini skill penari diuji. Bagaimana dia bisa menunjukkan seni menari dengan tetap menjaga simbol-simbol yang terkandung dalam tarian itu," tambahnya.
Biasanya tarian ini tampil di acara-acara adat, pembukaan event dan lain-lain.
"Terakhir kali kami tampil di acara puncak hari jadi Kabupaten HST tahun 2022 kemarin. Dalam acara Festival Kemilau Meratus," pungkasnya. (mal/gr/fud) Editor : Arief