Dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Diresmikan oleh Gouverneur van Borneo, dr Bauke Jan Haga.
Ia menjabat sebagai Gubernur Kalimantan sejak tahun 1938. Berakhir tahun 1942, tahun di mana Jepang masuk.
Karena sejarahnya itu pula, masyarakat lebih sering menyebutnya Kolam Belanda.
Keunikan kolam ini, airnya mengalir dari sumber mata air perbukitan. Sama seperti kolam peninggalan Belanda di daerah lain.
Seperti Kolam Renang Tirta Kencana di Banyumas, Jawa Tengah, yang dibangun Belanda pada tahun 1900-an.
Diperkirakan, fungsinya menjadi kolam renang pemandian untuk melayani tamu-tamu BJ Haga yang datang dari Eropa.
Sebab, orang Eropa tentu tak mau berenang di sungai yang biasa dipakai kaum pribumi.
Selain Kolam Belanda, di Tahura Sultan Adam juga terdapat bangunan lain yang memberikan pengetahuan sejarah bagi pengunjungnya.
Di antaranya, Benteng Belanda dan Pemandian Kolam Putri.
Tahura Sultan Adam sendiri memiliki luas 112 ribu hektare, membentang di wilayah dua kabupaten, Banjar dan Tanah Laut.
Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fathimatuzzahra mengatakan, kawasan Tahura Sultan Adam memiliki sejumlah objek wisata alam yang sayang kalau tak dikembangkan. Karena bisa berkontribusi untuk pendapatan asli daerah (PAD).
Diceritakannya, Tahura Sultan Adam kini semakin ramai dikunjungi wisatawan.
"Pada hari Senin sampai Jumat, rata-rata dapat Rp3 sampai Rp4 juta sehari (untuk retribusi). Sedangkan Sabtu dan Minggu, di atas Rp24 juta," ujarnya. (ris/gr/fud) Editor : Arief