Masyarakat Dayak Meratus memaknai baharin sebagai ungkapan rasa syukur. Dalam ritual ini, hasil kebun atau makanan dibagikan oleh empunya hajat kepada warga sekitar.
Plt Kepala Seksi Kesenian dan Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Masruswian menjelaskan, secara bahasa baharin diartikan sebagai bersedekah.
"Jadi misalkan Suku Dayak Meratus melaksanakan aruh setelah panen, aruh bawanan, atau aruh lainnya, pasti diakhiri dengan baharin," katanya kepada Radar Banjarmasin, Selasa (9/5).
Jadi dalam kalender, pelaksanaannya tidak terikat oleh waktu tertentu. "Tidak diperingati saban tahun. Tapi dalam setiap aruh pasti ada baharin," tambahnya.
Pada 2014, aruh adat baharin terdaftar dan ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda kategori ritual/upacara yang berasal dari Kalimantan Selatan.
Tak hanya di HST, ritual ini juga bisa ditemukan di Kabupaten Balangan.
Cara menyelenggarakannya, tahap pertama adalah mandan. Artinya persiapan. Pada tahap ini kaum laki-laki membuat dan menghias perjamuan, sedangkan para perempuan memasak lauk pauk.
Di tahap kedua, pemuka adat memanggil arwah para leluhur pada malam ketiga hingga keempat ritual. Tujuannya agar para leluhur ikut hadir dan merestui upacara.
Terakhir, tahap ketiga yang merupakan puncak dari upacara baharin, ditandai dengan penyembelihan hewan kurban seperti ekor kerbau. (mal/gr/fud) Editor : Arief