Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sebelum Menjadi Lapangan Lambung Mangkurat Kandangan

M. Syarifuddin • Selasa, 9 Mei 2023 | 10:00 WIB
Lapangan Lambung Mangkurat di Jalan Ahmad Yani, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).|  FOTO: SALAHUDIN/RADAR BANJARMASIN
Lapangan Lambung Mangkurat di Jalan Ahmad Yani, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).|  FOTO: SALAHUDIN/RADAR BANJARMASIN
TAHUN 1924, di seberang rumah dinas Asisten Residen Hulu Sungai, pejabat pemerintah Hindia Belanda, ada sebuah lapangan kosong.

Sekarang, kita mengenalnya dengan Lapangan Lambung Mangkurat. Lokasinya di Jalan Ahmad Yani, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) HSS, Rendra menceritakan, nama Lapangan Lambung Mangkurat diberikan setelah tahun 1950-an.

Sejak Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Dan Kalimantan kembali menjadi bagian republik, setelah sempat dipisahkan oleh Perjanjian Linggarjati tahun 1946.

Kemudian pada 1949 diadakan reorganisasi dan rasionalisasi gerakan-gerakan perjuangan bersenjata. Termasuk Divisi IV ALRI yang dilebur menjadi angkatan perang RI dengan nama Divisi Lambung Mangkurat.

"Jadi namanya bukan lagi Divisi IV ALRI, melainkan Divisi Lambung Mangkurat yang kelak menjadi Kodam X Lambung Mangkurat," jelasnya.

Pada 10 November 1949, digelar upacara militer pertama yang melantik Hasan Basry sebagai Panglima Divisi Lambung Mangkurat.

Itu sekaligus menegaskan perubahan nama divisi tersebut, komplet dengan pengibaran panji yang dibuat dari kain bersulam benang emas.

"Sejak itulah lapangan itu dinamakan Lapangan Lambung Mangkurat," katanya.

Belakangan, tercetus rencana untuk membentuk perguruan tinggi. Jenderal Hasan menjadi salah satu tokoh sentral dalam rencana itu.

"Hingga lahir Universitas Lambung Mangkurat di Banjarmasin. Dan rektor pertamanya adalah Hasan Basry," sebutnya.



Lapangan ini pernah dijadikan sebagai tempat reuni Dewan Lambung Mangkurat. "Dan menjadi lokasi upacara pemerintahan dan kemiliteran," tambah Rendra.

Sekarang Lapangan Lambung Mangkurat langganan menjadi tempat perayaan harjad kabupaten, pameran, tablig akbar, dan kampanye.

Lambung Mangkurat sendiri adalah nama raja kedua di Kerajaan Negara Dipa. Ejaan lain adalah Lembu Mangkurat.

Ketika kerajaan Hindu itu runtuh, berdirilah Kesultanan Banjar yang berideologi Islam. (shn/gr/fud) Editor : Arief
#Tahulah Pian #Sejarah Banua