Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sebelum Museum Lambung Mangkurat, Banua Punya Museum Borneo

M. Syarifuddin • Senin, 8 Mei 2023 | 11:37 WIB
MUSEUM IBU KOTA: Museum Lambung Mangkurat di Jalan Ahmad Yani km 35 Banjarbaru. | FOTO: SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN 
MUSEUM IBU KOTA: Museum Lambung Mangkurat di Jalan Ahmad Yani km 35 Banjarbaru. | FOTO: SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN 
MUSEUM Lambung Mangkurat di Kota Banjarbaru menjadi kelanjutan perkembangan permuseuman di Kalimantan Selatan.

Sebelum bangunan di Jalan A Yani km 35,5 itu diresmikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef pada 10 Januari 1979 silam, di Banua pernah ada museum lain yang berdiri.

Kepala Museum Lambung Mangkurat, Taufik Akbar mengatakan, perkembangan permuseuman di Kalsel dimulai sejak era Belanda pada tahun 1907.

"Saat itu pemerintah Hindia Belanda membangun Museum Borneo di Banjarmasin," katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin (7/5).

Namun pada masa penjajahan Jepang, museum ini ditutup karena koleksinya habis menjadi rebutan para penguasa.

Lalu setelah republik merdeka, pada 22 Desember 1955 berdirilah Museum Kalimantan atas prakarsa seorang pecinta museum: Amir Hasan Bondan.

"Koleksinya berupa barang pribadi beliau sendiri," ujarnya.

Sayangnya, museum ini tidak berumur panjang, kebakaran besar menghabiskan bangunan beserta isinya. "Setelah itu tidak ada museum lagi di Kalsel," kata Akbar.

Kemudian, pada 1957 digelar konferensi Kebudayaan se-Kotamadya Banjarmasin untuk mendesak pemerintah daerah membuat museum di Kalsel.

"Sepuluh tahun kemudian pada 8 Mei 1967 berdirilah Museum Banjar di Banjarmasin," bebernya.

Kemudian pada 1974 dibangun lagi museum baru di Banjarbaru, yang kini menjadi Museum Lambung Mangkurat. "Setelah diresmikan, seluruh koleksi dialihkan ke museum ini," ujarnya.

Koleksi di dalam museum berupa perlengkapan kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan adat istiadat dan budaya Suku Banjar.



Bagian dalam museum juga berisi koleksi dari era Hindu atau pra Islam, seperti patung dewa dan patung binatang.

Selain itu pengunjung juga bisa melihat koleksi dari masa Kesultanan Banjar, yaitu kursi emas, perisai, payung, tombak dan mahkota. (ris/gr/fud) Editor : Arief
#Bangunan Bersejarah #museum #Sejarah Banua