Balogo merupakan permainan tradisional Suku Banjar. Permainan rakyat dari Kalimantan Selatan.
Logo terbuat dari dua lapis tempurung kelapa yang direkatkan dengan aspal atau dempul supaya berat dan kuat.
Ukuran tempurungnya memiliki garis tengah sekitar 5-7 cm dan tebal 1-2 cm.
Bentuk logonya juga bermacam-macam, tidak selalu bundar. Ada yang berbentuk bidawang (bulus), biuku (penyu), segitiga, layang-layang, dan daun.
Pemain dibantu sebuah alat yang disebut panapak. Di beberapa daerah disebut campa, yakni stik atau pemukul dari bilah bambu dengan panjang sekitar 40 cm dan lebar 2 cm.
Fungsi panapak atau campa adalah untuk mendorong logo agar bisa meluncur dan menghantam logo lawan yang dipasang saat bermain.
Dalam aturannya, balogo bisa dimainkan sendirian, satu lawan satu. Bisa pula secara beregu.
Jika dimainkan secara beregu, maka jumlah pemain yang "naik" (pemain yang turun memukul) harus sama dengan jumlah pemain yang "pasang" (pemain yang logonya dipasang untuk dirobohkan).
Logo-logo itu didirikan berderet pada sebuah garis melintang. Yang paling banyak dapat merobohkan logo lawan, dialah pemenangnya.
Jumlah pemain beregu minimal dua orang, maksimal lima orang. Namun, menurut salah seorang pemain veteran, Agus Triatno, balogo sebenarnya tidak memiliki batasan pemain.
"Semua tergantung kesepakatan, walaupun umumnya dimainkan tiga orang dan paling banyak lima orang," ujarnya.
Pria 57 tahun itu menceritakan, semasa ia kecil dulu, balogo merupakan sarana silaturahmi anak-anak antar kampung.
"Dulu waktu masih kecil, tahun 70-an, saya sering bersama teman-teman menggunakan permainan ini sebagai sarana silaturahmi," ungkapnya.
"Kami bermain dengan anak-anak lain yang tidak dikenal. Jadi kami berkeliling ke kampung lain dengan membawa logo dan stik dari rumah," tambahnya.
Selain menjadi event olahraga dan warisan budaya, dikutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, balogo juga mengandung mitos sekaligus filosofi yang luhur.
Diwariskan dari nenek moyang Suku Dayak di Kalimantan bagian tengah, pada zaman dahulu, balogo dipercaya bisa mengukur tingkat kesuburan (rezeki) seseorang.
Kala itu, balogo adalah permainan musiman. Ramai dimainkan setelah masa panen padi atau upacara Tiwah.
Ritual Tiwah sama artinya dengan membuang harta. Untuk mengukur rezeki, maka dimainkan balogo.
Balogo juga menanamkan nilai-nilai positif. Seperti kejujuran, tidak egois, kerja sama, kompetisi, dan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan persoalan.
"Namun, menurut pengetahuan saya, permainan ini memang asli dari Suku Banjar. Sudah dimainkan sebelum masa kerajaan, boleh dikata sejak zaman purba," tegas Agus. (bir/gr/fud) Editor : Arief