Hendro adalah Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pertama. Meski lahir di Yogyakarta, namun leluhurnya berasal dari Banjar.
Dia sendiri, beberapa waktu lalu dianugerahi gelar Pangeran Harya Hikmadiraja oleh Sultan Banjar Khairul Saleh.
Lalu siapa leluhur Hendro? Datu atau kakek buyutnya ternyata adalah Raden Tumenggung Soeria Kesoema.
Sejarawan muda dari FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur menerangkan, Soeria adalah seorang Ronggo. Artinya pemegang suatu jabatan dalam afdeeling di masa pemerintahan Hindia Belanda.
"Beliau (Soeria) menjabat Ronggo sekitar tahun 1877-1893," sebutnya.
Nama asli Raden Tumenggung Soeria adalah Abdurahman. Lahir dari pasangan Bayan Aji dan Galuh Salamah.
Istrinya keturunan Tionghoa bernama Ratu Lim Pe Tek Nio yang kemudian masuk Islam dengan nama Siti Ra'imah.
Pada awalnya ia hanya bernama Soeria Kasoema. Karena jasanya, dia mendapatkan gelar Toemenggoeng setelah diangkat sebagai Ronggo di Onderafdeeling Kween (Kuin) sekaligus Kepala Jaksa (hoofddjaksa) Landraad Bandjermasin.
Soeria menggantikan Ronggo sebelumnya, Pangeran Toemenggoeng Tanoe Karsa. Beliau juga anggota Pengadilan Umum Perdata dan Pidana bentukan pemerintah kolonial.
Pengangkatannya bersamaan dengan pengangkatan hoofddjaksa di Landraad Amoentai, Tomenggoeng Wangsa Kasoema; jaksa penuntut umum di Amoentai, Kyai Mas Djaja Samoedra yang sebelumnya menjabat Kepala Distrik Tabanio.
Jabatan lain yang diemban Soeria adalah anggota de Plaatselijke Inlandsche Schoolkomissie te Bandjarmassin.
"Dalam koran Javabode edisi 15 November 1876, tertulis Mas Tumenggung Soeria Kasoema mendapatkan penghargaan medali emas untuk pengabdiannya," terang Mansyur.
Karir Soeria terus menanjak. Dalam koran yang sama edisi tanggal 16 Mei 1877 dan De locomotief edisi 19 Mei 1877, Inland Bestuur secara resmi memberikan gelar Raden untuk Mas Tumenggung Soeria Kasoema, Ronggo Afdeeling Banjarmasin dan wilayah sekitarnya (Afdeeling Borneo bagian Selatan dan Timur) sebagai penghargaan atas jasanya.
"Gelar Raden Mas diberikan di awal nama Soeria Kasuma," tambahnya.
Soeria menurutnya sosok yang melek media. Citranya banyak terangkat lewat pemberitaan di koran. Satu di antaranya tampak dari advetorial di koran De Locomotief edisi 8 Maret 1878.
"Saat itu pada tanggal 19 Februari 1878, peringatan tahun kelahiran Ratu Belanda," imbuh Mansyur.
Dalam berita itu ditulis, Soeria sangat pandai menyenangkan hati masyarakat. Dalam peringatan ultah sang ratu, Ronggo menggagas acara permainan yang aneh-aneh. "Hiburan semacam itu belum pernah digelar di Banjarmasin sebelumnya," jelasnya.
Sampai malam hari diadakan pesta besar-besaran di depan rumah Residen di Kampung Amerongen (sekarang Jalan Sudirman, Banjarmasin). Komplet dengan hiasan ribuan lampu tanglong yang dirancang oleh arsitek Dijkman.
Selain menjadi penggagas acara, Soeria juga menanggung semua biaya pesta yang sudah pasti tidak murah. (mof/gr/fud) Editor : Arief