Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Peran Setta dalam Pembangunan Darussalam

M. Syarifuddin • Senin, 1 Mei 2023 | 08:02 WIB
DARUSSALAM: Oleh Belanda, Tunji Setta atau mungkin Haji Satta, disebut turut terlibat dalam pembangunan Ponpes Darussalam di Martapura.
DARUSSALAM: Oleh Belanda, Tunji Setta atau mungkin Haji Satta, disebut turut terlibat dalam pembangunan Ponpes Darussalam di Martapura.
MASIH mengacu pada catatan pejabat pemerintah Hindia Belanda bernama HM Holtrust, di sana ditulis tentang keterlibatan seorang hartawan dalam pembangunan Pondok Pesantren Darussalam.

Ponpes terbesar di Kalsel yang berada di Martapura, Kabupaten Banjar.
"Tapi sulit menemukan catatan tentang keterlibatan Tunji Setta dalam pendirian Darussalam. Karena tradisi mencatat kurang akrab bagi masyarakat Banjar," kata Mansyur, dosen sejarah dari Universitas Lambung Mangkurat.

"Orang Banjar terbiasa dengan tradisi lisan. Sehingga sejarah hanya ditransfer dari kisah mulut ke mulut," sesalnya.

Di sana ditulis tentang keterlibatan seorang hartawan bernama Tunji Setta dalam pembangunan Darussalam.

Dalam catatan Holtrust disebutkan, Setta memiliki ayah bernama Muhammad Arsyad. Ibunya keturunan Tionghoa dari marga Lim. Nama muslimahnya adalah Hajjah Intan.

Setta tercatat memiliki aset 30 buah perahu pengangkut batu bara, 37 buah perahu tambang, dan 16.423 buah jukung.

Pada 1927, pabrik karet milik Setta telah menghasilkan 1.931 pikul atau 120.687 kilogram karet kering.

Kembali pada keterlibatan dirinya dalam pendirian Ponpes Darussalam di Martapura, cerita ini bermula dari pembicaraan di Majelis Mudzakarah di rumah Tunji Setta.

Di sana tercetus ide untuk memajukan pendidikan agama. Apalagi Tuan Guru Kasyful Anwar yang merupakan alumni Madrasah As-Shaulatiyah di Makkah sering hadir dalam majelis tersebut.



Kita tahu, Kiai Kasyful (1887-1940) merupakan peletak pondasi sistem pendidikan Darussalam.

Mengacu dokumen pendirian Darussalam, disebutkan sekolah agama itu berdiri di atas tanah dengan status petak hak milik. Digunakan oleh tujuh pengajar dan 385 murid.

Gedungnya disebut Darussalam, milik Sarekat Islam (SI) cabang lokal. Sedangkan bantuan keuangan berasal dari kantong Tunji Setta.

Tiga guru utama setiap bulannya menerima santunan 20 sampai 40 poundsterling.
Menurut Belanda, Setta yang dermawan bahkan ikut membantu penyediaan kursi, meja, dan peralatan belajar di kelas.

"Apakah kedua versi ini merujuk pada sosok yang sama? Jawabannya perlu penelitian lebih lanjut," tutup Mansyur.(zkr/gr/fud) Editor : Arief
#Tahulah Pian