Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Haji Satta: Saudagar Cempaka dalam Dua Versi

M. Syarifuddin • Sabtu, 29 April 2023 | 09:24 WIB
RUMAH ADAT BANJAR: Rumah Batu di Martapura, milik Haji Satta alias Saudagar Cempaka. | FOTO: M FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN 
RUMAH ADAT BANJAR: Rumah Batu di Martapura, milik Haji Satta alias Saudagar Cempaka. | FOTO: M FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN 
DOSEN sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur menyebutkan ada dua versi tentang tokoh Haji Satta alias Saudagar Cempaka ini.

Pertama, mengacu pada buku 'Sejarah Pendulangan Intan Kalsel' yang ditulis Yusliani Noor dan Sayyidati.

Dalam buku terbitan tahun 2020 itu diceritakan, Juragan Satta adalah pemilik lokasi pendulangan intan di Alur Cempaka, Kota Banjarbaru.

Satta sendiri tinggal di Pasayangan, Martapura, Kabupaten Banjar.

Konon, Satta pernah memiliki intan lebih dari sebotol besar. "Beliau contoh pemilik lahan pendulangan intan yang kaya dan sukses," kata Mansyur.

Versi ini mengacu pada informasi lisan dari masyarakat yang tinggal di Jalan Pangeran Abdurrahman, Martapura.

Di jalan itu, ada sebuah rumah adat Banjar model Palimbangan. Tak jauh dari sana, berdiri Rumah Batu.

Kedua rumah ini ternyata milik dua bersaudara, Satta dan adiknya Haji Nazir.

"Konon semua bagian rumah ini tidak dipaku. Hanya memakai pasak dari kayu ulin. Sementara kunci dan gagang pintunya didatangkan dari Jawa," tambahnya.

Usaha Satta bukan hanya intan. Ia juga memiliki perkebunan karet di Cempaka. Lahan dan gudang penyimpanan karetnya masih ada sampai sekarang.

Dalam versi kedua, mengacu pada catatan Belanda, Haji Nazir disebut sebagai kakek si Saudagar Cempaka, bukan adiknya.



Nazir lah yang memasarkan karet hasil kebun Satta lewat jaringan bisnisnya di luar Kalimantan.

"Beliau (Haji Nazir) adalah pengusaha intan permata yang berdagang sampai ke luar negeri di zaman Hindia Belanda," jelasnya.

Versi ini muncul dalam catatan serah terima jabatan (memorie van overgave) Onderafdeeling Martapoera Door yang disusun oleh HM Holtrust.

"Catatan ini sebagai panduan dari pejabat lama kepada pejabat baru untuk melanjutkan pemerintahan," katanya.

Namun, di sini nama tokoh utama kita ditulis dengan ejaan berbeda: Setta, bukan Satta. Memakai 'e', bukan 'a'.

Mansyur menerangkan, tunji adalah sebuah gelar. Singkatan dari tuan haji. Untuk membedakannya dengan para ulama. "Kala itu yang mampu beribadah haji hanya ulama dan saudagar," terangnya.

Di mata orang Eropa, Setta memiliki status sosial tinggi. Sebab Belanda pernah mengundangnya bersama anaknya yang bernama Haji Abdurrahman.

Pertanyaannya, apakah Satta dan Setta mengacu pada orang yang sama? (bersambung) (zkr/gr/fud) Editor : Arief
#Bangunan Bersejarah #Tahulah Pian #Sejarah Banua