Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bingka Kok Pedas? Yuk Kenalan Dengan Bingka Tumis Khas Haur Gading

M. Syarifuddin • Senin, 3 April 2023 | 17:38 WIB
Bingka Tumis. | FOTO: M AKBAR/RADAR BANJARMASIN
Bingka Tumis. | FOTO: M AKBAR/RADAR BANJARMASIN
Bingka tumis masih bersaudara dengan bingka kentang. Bingka tumis ini hanya ada di daerah bernama Haur Gading.

Oleh: MUHAMMAD AKBAR, Amuntai


HAUR Gading adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Jika Anda penasaran ingin mencicipi bingka tumis, silakan kunjungi Desa Keramat di Haur Gading.
Lantas, apa bedanya bingka tumis dengan bingka yang lain?

Kita tahu, bingka kentang dan bingka tapai yang populer itu mengandalkan rasa manis.
Sedangkan pada bingka tumis, manis hanya salah satu elemen rasa. Sebab ada rasa gurih, manis, asin, dan pedas sekaligus pada setiap gigitannya.

Dari tampilan luar saja, pembaca pasti menyadari ada yang unik dari bingka ini. Di atas permukaan kue yang gelap, penuh oleh taburan bawang goreng dan irisan cabai.

Tenang... pedasnya bingka tumis masih terbilang moderat. Yang tidak terlalu tahan pedas, masih bisa kok menikmatinya.

Salah seorang pembuat bingka tumis adalah Naila. Kepada Radar Banjarmasin, ia menceritakan cara pembuatannya.

Pertama, campurkan gula merah, gula putih, dan telur (itik atau ayam terserah, sesuai selera).

Lalu dikocok sampai menyatu. Kemudian campurkan dengan tepung beras dan santan.
Campur lagi dengan parutan kepala yang sudah disangrai. "Aduk lagi sampai adonannya merata," ujar warga RT 01 Desa Keramat ini.

Kedua, proses memasak. Naila sendiri masih menggunakan tungku dan kayu bakar.
Menurutnya, cita rasa dari kayu bakar tak bisa dikalahkan oleh kompor minyak tanah atau kompor gas.

"Lama memasak sekitar 30 menit, baranya sambil dikipas-kipas. Begitu matang, angkat dan dinginkan. Baru taburi dengan bawang goreng dan potongan cabai merah besar," jelasnya.

Setiap hari, Naila yang dibantu ibu dan suaminya bisa memasak 20 loyang bingka tumis. Kalau orderan sedang banyak, bisa sampai 40 loyang.

"Sebenarnya resepnya sudah ada sejak lama. Tetapi kalau membuat dan menjualnya, mulai tahun 2005," kisahnya.

Yang membuat bingka tumis semakin spesial, ia hanya dibikin selama bulan Ramadan.
Bingka tumis dalam loyang ukuran kecil dijual Rp40 ribu, ukuran sedang Rp50 ribu, dan Rp65 ribu untuk ukuran besar.

Salah seorang penggemar bingka tumis adalah Yusuf. "Rasanya gurih dan lumer. Cocok untuk berbuka puasa atau menjadi bingkisan oleh-oleh," ujarnya. (gr/fud) Editor : Arief
#Kuliner Ramadan