Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Lamut Tak Boleh Mati

M. Syarifuddin • Selasa, 21 Maret 2023 | 08:15 WIB
PELESTARI: Feryan, pelamut asal Barabai saat tampil di atas panggung pertunjukan seni. | FOTO: FERYAN FOR RADAR BANJARMASIN
PELESTARI: Feryan, pelamut asal Barabai saat tampil di atas panggung pertunjukan seni. | FOTO: FERYAN FOR RADAR BANJARMASIN
BALAMUT semakin jarang dimainkan. Pertunjukan seni itu langka lantaran sepi penonton dan peminat.

Lamut adalah sebuah tradisi bertutur. Kisah yang dibawakan mengandung pesan moral dan nilai-nilai keagamaan, sosial, dan budaya Banjar.

Saat dimainkan, seni bertutur ini diiringi alat musik terbang berukuran besar. Terbang diletakkan di pangkuan penutur, dikelilingi para pendengar. Terbang dipukul mengiri cerita.

"Generasi muda sekarang, sedikit sekali yang berminat meneruskan kesenian ini. Semenjak sang maestro Gusti Jamhar Akbar meninggal Februari 2021 tadi," kata Feryan.

Feryan menjadi satu-satunya anak muda di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) yang piawai menampilkan kesenian lamut. Ia sudah menggeluti kesenian ini beberapa tahun ke belakang. Modalnya adalah niat dan kepercayaan diri.

Ketika tampil, biasanya dia membawakan kisah awal mula lamut muncul ke dunia. "Dalam kisah ini diceritakan arti kata lamut. La artinya tidak ada, maut artinya mati. Lamut artinya tidak ada matinya. Sesuai artinya, saya berharap kesenian lamut ini tidak akan mati," kisahnya.

Sejarahnya, pertunjukan ini digelar malam hari sebagai hiburan masyarakat Banjar pada acara perkawinan, perayaan hari-hari besar, atau hari penting daerah.

"Namun sekarang, lamut bisa ditampilkan dalam setiap acara. Waktunya juga tidak harus malam hari," sebutnya.

Lalu apa bedanya dengan kesenian madihin? Secara kasat mata, yang jelas alat yang dipakai berbeda. Terbang lamut lebih besar ketimbang madihin.

Perbedaan lainnya, soal materi yang dibawakan. Kalau madihin lebih banyak bersyair dan berpantun. (mal/gr/fud) Editor : Arief
#Budaya #Seni dan Budaya