Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

BPK Swasta Pertama di Banjarmasin

M. Syarifuddin • Jumat, 24 Februari 2023 | 08:22 WIB
Photo
Photo
BARISAN pemadam kebakaran (BPK) sudah dibentuk di Banjarmasin sejak berstatus Geemente. Dalam lidah orang Banjar, disebut Haminta Banjarmasin. Geemente atau Haminta, merujuk pada arti yang sama: kotamadya.

Dosen sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengatakan, BPK pertama dibentuk pada tahun 1919.

Tentu sebutannya pada zaman dulu bukan damkar, melainkan brandweer.

Brandweer dibutuhkan karena saban kemarau, permukiman orang Banjar yang dibangun dari kayu kerap dilanda musibah kebakaran.

"Pada 1919 hingga 1920-an, Banjarmasin mulai berkenalan dengan mesin pompa pemadam kebakaran," ujarnya kepada Radar Banjarmasin kemarin (23/2).

Ia mengutip Idwar Saleh (1981), bahwa informasi itu tercatat dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie (Lembaran Negara Hindia Belanda) tahun 1816-1920 yang diterbitkan Dutch East Indies. Kemudian dirilis AD Schinkel pada 1920.

Pada pasal lima dikemukakan, telah ada brigade pemadam kebakaran lokal di Banjarmasin.
"Alat-alat pemadam kebakaran diserahkan tanpa ganti rugi dari pemerintah kepada Gemeente. Pada 1956 barulah berdiri pemadam kebakaran milik Pemda Kotamadya Banjarmasin," ungkapnya.

Pada masa itu, jumlah armada damkar yang disediakan pemda masih sangat sedikit.
"Sekitar tahun 1956, berdiri perkumpulan BPK yang dibangun warga Tionghoa bernama Tjung Hua Tjung Hui. Yang sekarang berganti nama menjadi Himpunan Pemuda-Pemudi Indonesia (Hippindo)," bebernya.

"Mereka pemuda-pemudi keturunan Tionghoa dan pribumi yang berprofesi sebagai pengusaha dan pedagang yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan," sambungnya.

Seiring waktu, tahun 70-an, di Banjarmasin baru ada empat unit truk damkar. Dua milik pemda, dua lagi milik BPK Hippindo.

Pada 1972-1973, terjadi kebakaran hebat di Kampung Pekauman. Api mengamuk selama enam jam. Empat unit itu jelas kewalahan.

Ribuan rumah dan kios pun terbakar habis menjadi arang.

"Masyarakat akhirnya berpikir, bagaimana cara melindungi harta benda dan tempat usaha mereka. Pada akhirnya dibentuk BPK swasta atau swadaya untuk membantu tugas armada milik pemda. Pembentukanya mendapat dukungan wali kota yang saat itu dijabat Kamaruddin," terang Mansyur.

Jadi sejak 1972, muncul BPK Swasta Pribumi yang bermarkas di kawasan Teluk Tiram.
Mereka yang menjadi anggotanya menyandang status relawan. Murni sosial, tidak meminta digaji atau menarik bayaran dari masyarakat.

"Dana operasional diperoleh dari sumbangan para donatur," sebutnya.

Beberapa sumber menyebutkan, Wali Kota Kamaruddin sempat menyarankan agar BPK Swasta Pribumi mengganti namanya. Agar kesannya tak terlalu berbau primordial. Namun para pendirinya menolak.

"Hingga akhirnya disingkat saja menjadi BPK SP. Semboyannya pantang bulik sebelum pajah (pantang pulang sebelum padam)," ujarnya.

BPK SP disponsori seorang pedagang besar asal Pasar Ujung Murung, namanya Haji Aini.
Fasilitas BPK SP pun dilengkapi dengan peralatan canggih seperti mesin pompa berkapasitas besar, ditambah trailer mesin mobil DOS 6 silinder, disokong mesin rakitan yang berdaya semprot tinggi.

Hingga tahun 2000-an, BPK SP tetap berkantor di Jalan Teluk Tiram, berdampingan dengan Kantor Lurah Telawang.

Sampai akhirnya BPK SP memiliki 14 batalion (ton) yang tersebar di lima kecamatan. BPK SP kemudian bertransformasi menjadi PMK SP. Dan membangun markas baru di Jalan Kertak Baru Ilir, belakang Hotel Mentari.

Kehadiran BPK SP diikuti oleh kemunculan BPK swasta lainnya. Seperti Nasa, Radar, Keramat, dan lainnya. "Muncul pula nama damkar, balakar (bala bantuan kebakaran), dan komdar (komunikasi darat)," jelas Mansyur.

Banjarmasin kembali dilanda kebakaran besar pada tahun 1976 atau 1978. Ribuan rumah terbakar di Seberang Masjid.

Musibah itu direspons dengan pendirian PMK Seberang Masjid. Awalnya, peralatannya sederhana sekali. Sebuah drum dipotong menjadi dua. Drum itu dipakai untuk membawa pasir, sekop, garuk, dan ember.

Baru pada 1982 mereka memiliki trailer pengangkut pompa air manual. "Jumlah BPK meningkat tajam. Setelah meletusnya kerusuhan pada masa kampanye Pemilu 1997 yang dikenal dengan peristiwa Jumat Kelabu," kisahnya.

Damkar pun tumbuh subur. Di Indonesia, mungkin hanya Banjarmasin yang memiliki damkar swasta sebanyak itu.

"Pada 2004, Museum Rekor Indonesia (MURI) menobatkan Banjarmasin sebagai kota dengan jumlah pemadam kebakaran yang terbanyak," kata Mansyur.

Sebelas tahun kemudian, MURI lagi-lagi mencatat rekor BPK swadaya terbanyak di Banjarmasin. "Hebatnya lagi, rekor ini tidak hanya untuk skala Indonesia. Tapi sudah se-Asia Tenggara," tutupnya. (lan/gr/fud) Editor : Arief
#BPK