Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Cerita dari Rumah Lebo Bentok

M. Syarifuddin • Kamis, 23 Februari 2023 | 13:28 WIB
LEBIH 136 TAHUN: Tidak ada catatan pasti, tapi tahun 1887, rumah adat Banjar ini dipastikan sudah berdiri. | FOTO: AHMAD MUBARAK/RADAR BANJARMASIN
LEBIH 136 TAHUN: Tidak ada catatan pasti, tapi tahun 1887, rumah adat Banjar ini dipastikan sudah berdiri. | FOTO: AHMAD MUBARAK/RADAR BANJARMASIN
DI MARABAHAN, Kabupaten Barito Kuala, berdiri rumah adat Banjar berumur ratusan tahun.

Tua sekali, tapi masih kokoh. Dari depan, dari luar, bentuknya masih tampak sempurna. Walaupun dapurnya sudah runtuh dimakan usia.

Rumah panggung model Bubungan Tinggi itu milik Arsalan, 63 tahun.

Alamatnya di Jalan Panglima Wangkang. Kawasan yang lebih populer dengan nama Lebo Bentok.

Ukurannya lumayan besar dengan panjang 22 meter dan lebar 8 meter.

Menurut pemiliknya, rumah ini sama persis dengan ketika pertama kali dibangun. Bila ada bagian yang rusak, seperti lantai atau dinding, diganti dengan mengikuti gaya dan bahan seaslinya.

Sebelum memasuki rumah, tamu lebih dulu menaiki lima anak tangga. Ditambah menapaki dua anak tangga menuju ruang tamu atau utama.

Di dalam, kita akan disambut dua tiang besar dan berbagai ukiran.

Arsalan menuturkan, dirinya adalah generasi keempat yang menghuni rumah ini.

Tidak ada catatan pasti soal kapan rumah ini dibangun. "Yang pasti, pada 1887, ketika di depan sana dibangun gudang, rumah ini sudah ada," jelasnya kepada Radar Banjarmasin, Selasa (21/2).

Hampir semua bagian rumah ini masih orisinal. "Untuk atap juga masih asli, namun mulai rusak. Tidak diganti, hanya dilapisi seng saja," terangnya.

Yang mengagetkan, cat tiang dan tembok rumah ini masih terlihat cerah. Jauh dari kusam. Padahal bukan cat baru. "Semua cat dan ukiran di sini tidak pernah diubah sama sekali. Sudah berumur ratusan tahun," klaimnya.

Pensiunan guru ini menceritakan, arkeolog kerap berdatangan, tertarik untuk meneliti ukiran-ukiran di rumahnya. "Sayang, mereka tidak mengungkap cerita di balik ukiran ini. Mereka hanya menemukan kepala ukirannya (ukiran yang pertama dibuat)," ujarnya.

Mereka yang tertarik dengan arsitektur juga kerap berkunjung, hanya untuk melihat-lihat. "Pernah beberapa mahasiswa UI (Universitas Indonesia) datang kemari untuk meneliti," tambahnya.

Tapi yang paling berkesan, ketika Arsalan dikunjungi tiga WNA Jepang. Mereka datang perihal nenek moyang Arsalan.

"Ayah orang Jepang itu sempat bertugas di sini (pada zaman penjajahan). Dan punya catatan nama-nama nenek moyang kami," kata Arsalan.

Orang-orang Jepang itu sangat teliti, setiap bagian rumah tak dilewatkan untuk diamati. "Buat apa, kurang tahu. Mungkin cuma untuk kenang-kenangan saja," terka Arsalan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Batola, Sabirin menegaskan, rumah milik Arsalan tercatat sebagai rumah budaya.

Satu dari dua cagar budaya yang berada di Batola. "Tercatat secara nasional sejak 5 tahun lalu," ujarnya.

Untuk menjaga rumah budaya ini, pemkab menyediakan petugas jaga. "Ada juga juru pelihara dari keluarga pemilik rumah," imbuhnya. (bar/gr/fud) Editor : Arief
#Bangunan Bersejarah