Tepatnya di Desa Sungai Buluh di Kecamatan Labuan Amas Utara. Desa ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Sungai Buluh dihuni 3.136 jiwa, merupakan desa yang berada di dataran rendah atau daerah lebak.
Mayoritas penduduknya adalah nelayan. Di Sungai Buluh, ada banyak ikan seperti haruan, petok, dan sepat.
Jadi jangan heran bila di desa ini ada pasar khusus iwak (ikan) setiap hari Rabu. Banyak penjual ikan keliling mengambil stok dari pasar ini untuk dijual kembali ke desa-desa lain.
"Saat ini 70 persen pekerjaan warga desanya adalah nelayan. Sisanya usaha berdagang kecil-kecilan," kata M Nasir, sekretaris desa setempat.
Sedangkan untuk pertanian, sudah sekitar tujuh tahun vakum. Lahannya tidak bisa digarap. "Karena banyak gulma dan lahan berair yang tak kunjung surut," jelasnya.
Sejak dulu, Desa Sungai Buluh menjadi salah satu sumber penghasil ikan di HST.
Jumlah penduduknya semakin lama semakin bertambah. Kini Sungai Buluh dibagi menjadi sembilan rukun tetangga.
Secara administrasi, desa ini berdiri pada 1980. Sebelumnya pada 1970 terjadi pemekaran desa-desa baru. Yakni Desa Kayu Rabah, Rantau Bujur, Sungai Buluh dan Sungai Buluh Seberang.
Kemudian tahun 1980 berdirilah Desa Sungai Buluh atas penyatuan dari dua desa, yakni Desa Sungai Buluh dan Sungai Buluh Seberang.
Di desa ini juga ada beberapa dusun. Paling terkenal adalah Dusun Awang Landas. Banyak warga sana yang di tinggal di rumah lanting (apung).
Dahulu rumah-rumah itu sebenarnya hanya pondok sementara. Sebagai tempat menginap saat menjaga ternak itik dan kerbau rawa.
"Pada akhirnya, makin banyak yang membangun rumah kecil hingga membentuk komunitas. Selanjutnya menjadi kampung, permukiman tetap. Namun, mereka membangun rumah lanting terpencar di beberapa titik," tutup Nasir. (mal/gr/fud) Editor : Arief