Lokasinya berada di ujung selatan Pulau Laut. Akses ke sana sulit. Dari darat susah. Dari laut, pesisirnya langsung berhadapan dengan laut dalam.
Berhubung topografinya begitu, sudut di pulau itu menjadi tempat favorit sandar kapal-kapal perompak di zaman gerombolan. Kata terakhir merupakan istilah orang pulau mengacu zaman pecah perang saudara di Sulawesi. Saat itu banyak saudagar atau orang-orang jago lari dari Sulawesi. Membawa banyak harta. Entah rampasan perang atau warisan.
Mereka lari bersembunyi. Salah satu tempat favorit ada di Pulau Laut. Di Desa Labuan Mas, Kecamatan Pulau Laut Selatan. "Tapi, ada juga yang bilang mereka itu adalah perompak," ujar Heriansyah, tokoh masyarakat di sana.
Dia menuturkan kisah turun-temurun. Dari kakek buyutnya sampai ke dia. Semua punya kisah yang sama. Hanya bumbunya yang berbeda.
Para perompak konon memilih desa itu karena mereka enak berlabuh dengan kapal besar. "Lautnya hanya beberapa meter ke depan langsung dalam," ujar Hery.
Mereka lalu menyembunyikan harta di desa. Tapi ada juga yang tewas. Rekan-rekannya lalu memakamkannya, berikut dengan harta-hartanya.
Singkat cerita, zaman berganti. Para perompak pergi. Imigran dari Sulawesi Barat datang ke Pulau Laut. Menempati bagian selatan pulau.
Makin lama makin banyak. Hingga sebagian imigran sampai ke desa tempat perompak dulu bersembunyi.
Saat membuka kampung itulah beberapa orang menemukan harta. "Ada kalung emas. Piring emas. Macam-macam," ujarnya.
Harta temuan itu sebagian disimpan. Sebagian dijual ke Sulawesi. Orang kaya mendadak, lalu membangun kampungnya. Beli kapal besar dan seterusnya.
Maka orang-orang sana kemudian menyebut desa itu dengan sebutan Pelabuhan Emas. Tapi, dalam pelafalannya menjadi Labuan Mas.
"Ada juga yang dapat dari mimpi. Dia ketemu orang tua dalam mimpi. Disebutkan kalau di bawah rumahnya ada harta. Dia gali bawah rumahnya, benar," ujarnya.
Tapi, orang itu diam-diam saja. Lalu pergi ke Sulawesi. Pulang bawa harta dan uang banyak.
"Dikira orang kampung dia pakai pesugihan awalnya. Pas dia cerita, orang percaya. Karena memang banyak dapat harta. Keluargaku juga ada," tambah Hery.
Labuan Mas ini mayoritas dihuni warga suku Mandar. Dari Sulawesi Barat. Salah satu suku terbesar yang tinggal di Pulau Laut.
Walau namanya mencerminkan gelimang harta, kondisi desa sendiri jauh dari itu. Mau lewat manapun akses jalan ke sana sulit. Kades Labuan Mas, Duriansyah mengatakan sudah dari dulu mereka mendambakan jalan mulus, tapi belum kesampaian.
Mayoritas mata pencaharian warga di sana adalah nelayan, petani, dan peternak burung walet. Beberapa memang memiliki kekuatan finansial yang menonjol.(zal/gr/dye) Editor : Arief