Kecamatan ini punya sebelas desa. Konon Angkinang adalah nama seorang pendekar.
Kepada Radar Banjarmasin, Camat Angkinang, Sabilarrasad mengatakan, cerita rakyat ini amat populer di tengah masyarakat HSS.
Alkisah, seorang pria dengan tubuh besar dan kekar muncul entah dari mana. Yang menarik, pendekar ini datang tidak menenteng pedang atau panah.
Dia justru membawa segenggam padi yang telah matang. Dengan itu dia mengajari penduduk desa cara bercocok tanam hingga memanen.
Nama Angkinang itu sendiri berasal dari kebiasaannya. Dia senang sekali menguyah daun sirih, dalam bahasa Banjar disebut manginang.
Atas jasa-jasanya, masyarakat pun memberinya nama Hangkinang. Hang artinya pendekar, dan kinang artinya suka manginang.
"Lama-lama nama tersebut dijadikan nama kampung, yaitu Kampung Hangkinang. Seiring waktu, penyebutannya sedikit berubah dan sekarang lebih dikenal dengan Angkinang," jelas Sabilarrasad.
Secara administrasi, Angkinang berdiri bersama tujuh kecamatan lainnya: Sungai Raya, Simpur, Kandangan, Padang Batung, Telaga Langsat, Daha Utara dan Daha Selatan.
Sedangkan Kecamatan Daha Barat, Kalumpang dan Loksado menyusul pada tahun 1950.
"Hari ini, Kecamatan Angkinang sudah berusia 72 tahun," sebutnya.
Dahulu, Angkinang mempunyai 24 desa. Namun, pada tahun 1999 terjadi penggabungan. Hingga tersisa 11 desa.
Mengacu sensus Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2022, Angkinang dihuni 19.784 jiwa.
Total, sudah 23 orang yang pernah memimpin Angkinang. "Pertama kali Angkinang dipimpin seorang Asisten Wedana bernama Ibas," pungkasnya. (shn/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi