Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jembatan Bakubung: Atapnya Bukan Sekadar Hiasan

M. Syarifuddin • Kamis, 29 Desember 2022 | 08:31 WIB
JEMBATAN ULIN: Jembatan Bakubung di Sungai Tabukan, HSU yang masih bertahan dengan keasliannya. | Foto: M Akbar/Radar Banjarmasin
JEMBATAN ULIN: Jembatan Bakubung di Sungai Tabukan, HSU yang masih bertahan dengan keasliannya. | Foto: M Akbar/Radar Banjarmasin
DI KALIMANTAN, yang daratannya dibelah banyak sungai, jembatan menjadi infrastruktur penting.

Di Kabupaten Hulu Sungai Utara, konon ada sebuah jembatan ulin yang hampir berumur dua abad.

Namanya Jembatan Bakubung (kubung artinya atap). Dibangun tahun 1835, sempat mengalami dua kali direnovasi.

Badan jembatan diperbaiki pada Desember 1998 dan rampung Juli 1999. Sedangkan renovasi atapnya dikerjakan dari 28 Agustus sampai 21 September 1999.

"Jadi seabad lebih, baru jembatan lama direhab menjadi jembatan baru," ungkap Ahdiyat, salah seorang tokoh masyarakat Alabio, kemarin (28/12).

Mantan pensiunan kepsek SMA di Amuntai itu menambahkan, dahulu Jembatan Bakubung berada di wilayah administrasi Kecamatan Sungai Pandan.

Seiring pemekaran, sekarang masuk ke wilayah Kecamatan Sungai Tabukan.

Sebelah kiri jembatan adalah wilayah Desa Pematang Benteng Hilir. Di sebelah kanan adalah Desa Galagah Hulu.

"Memasuki era modern, jembatan ini tetap kokoh untuk menghubungkan masyarakat di Sungai Pandan dan Sungai Tabukan," ujarnya.

"Ciri unik jembatan terletak pada atap yang berbentuk segitiga sama kaki. Dengan ornamen Banjar dan dominan warna kuning. Sudah menjadi ikon kecamatan dan desa," tambahnya.

Perihal kubung atau atap jembatan, itu bukan hanya hiasan. Ia memiliki fungsi sosial.

"Pada zaman belum ada radio dan televisi, jembatan ini menjadi sarana warga desa untuk bertukar pikiran dan informasi," kisahnya.

Di bawah atap jembatan, warga bertemu, duduk-duduk dan berbincang santai. "Jadi bukan cuma tempat berteduh saat hujan," imbuhnya.

Yang menarik, Jembatan Bakubung diapit oleh dua musala. Di sisi Desa Pematang Benteng Hilir ada Surau Nurul Sahbirin. Pada sisi Desa Galagah Hulu ada Langgar Nurul Hidayah.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum HSU, Amos Silitonga mengatakan, tak mudah mempertahankan jembatan kayu di tengah era jembatan beton.

Mengingat kekuatannya untuk menahan beban yang terbatas. "Dulu masih banyak jembatan rangka kayu. Namun pelan tapi pasti jembatan ulin banyak yang berganti," ujarnya.

"Terkecuali jembatan kayu itu memiliki keunikan dan nilai historis," sambung Amos. (mar/gr/fud) Editor : Arief
#Tahulah Pian #jembatan #Sejarah Banua