Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tower PDAM di Taman Van der Pijl, Jadi Saksi Krisis Air Bersih di Banjarbaru

Muhammad Helmi • Rabu, 21 Desember 2022 | 15:01 WIB
BANJARBARU TEMPO DULU: Tower PDAM di tepi Jalan Ahmad Yani, Banjarbaru, dipotret sekitar tahun 80-an. | Foto: IST
BANJARBARU TEMPO DULU: Tower PDAM di tepi Jalan Ahmad Yani, Banjarbaru, dipotret sekitar tahun 80-an. | Foto: IST
DICAT pelangi dan menjulang tinggi, tower PDAM di Taman Van der Pijl menjadi salah satu ikon Kota Banjarbaru.
Menara di tengah pusat kota ini punya sejarah panjang. Menjadi saksi bisu, bahwa Banjarbaru ternyata pernah dilanda krisis air bersih.

Catatan dari banyak sumber, menara ini dibangun tahun 1979 dan rampung tahun 1980. Kala itu, Banjarbaru masih kota administratif di bawah Kabupaten Banjar.

Dahulu disebut tower BPAM. Singkatan dari badan pengelola air minum daerah.

Sebelum menjadi taman kota, di sekitar tower hanya ada pekarangan biasa. Karena rindang, sekitar tower menjadi tempat bermain anak kecil dan orang tua bersantai.

Tower ini memiliki tinggi 30 meter. Diameternya sekitar 8 meter. Kapasitasnya mampu menampung 600 meter kubik air.

Jadi fungsinya memang untuk menyimpan cadangan atau stok air. Untuk disalurkan BPAM kepada masyarakat pelanggan.

Kala itu, beberapa wilayah Banjarbaru sempat dilanda krisis air. Dan keberadaan tower ini sangat menolong.

Namun, fungsinya tak bertahan lama. Sekitar tahun 90-an, tower ini tidak lagi dipakai. Sebab PDAM (sekarang PTAM Intan Banjar) terus menambah daya produksi dan jaringan distribusi airnya.

Pada tahun 1992-1994, di kawasan hutan pinus, dibangun instalasi pengolahan air bersih yang lebih modern.

Meski tidak lagi dipakai, tower ini tidak lantas dirobohkan. Bahkan punya fungsi baru: menjadi latar belakang untuk warga yang hendak berfoto-foto di Banjarbaru.

Lama dibiarkan kusam dan tak terawat, pada 2017, pemko mengambil alih pemeliharaan tower itu. Gayung bersambut, PDAM tak keberatan.

Menggaet seorang pelukis, almarhum Sulistyono Hilda, tower ini ia perlakukan bak kanvas lukis.

Setelah tiga bulan pengerjaan, paras tower itu berubah drastis. Ada mural. Adapula motif kain sasirangan dengan warna mencolok. (rvn/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian