Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Riwayat Klan Amerongen

Muhammad Helmi • Selasa, 13 Desember 2022 | 11:26 WIB
AMBTENAAR: Rumah Residen Banjarmasin di Kampung Amerongen. Lokasinya sekarang diperkirakan di Jalan Sudirman.
AMBTENAAR: Rumah Residen Banjarmasin di Kampung Amerongen. Lokasinya sekarang diperkirakan di Jalan Sudirman.
Bagi yang pernah pelesir ke Belanda, tak asing dengan nama Amerongen. Sebuah desa di provinsi Utrecht, Belanda.///

BANJARMASIN - Amerongen berada di Utrechtse Heuvelrug, sekarang menjadi taman nasional.

Desa ini sepi. Mengacu sensus tahun 2015, penduduk Amerongen hanya 5.166 jiwa.

Di sebelah selatan berdiri Kasteel Amerongen. Kastil itu dihancurkan Prancis pada tahun 1672.

Kaisar terakhir Jerman, Wilhelm II tercatat pernah menghabiskan 1,5 tahun di sana.

Ketua Lembaga Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan, Mansyur menceritakan, selain memiliki banyak kanal, Amerongen juga memiliki lanskap alam yang indah.

Amerongen kemudian menginspirasi penamaan beberapa daerah jajahan Hindia Belanda.

Contoh Benteng Amerongen yang diserang Tuanku Tambusai pada tahun 1833. Dalam perang melawan kolonial di Rao dan Mandailing, Sumatera.

Sedangkan di Banjarmasin, dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu menyebut, ada kampung bernama Amerong atau Amarong.

Idwar Saleh (1981) menulis, nama Kampung Amarong atau Amerong diambil dari nama sebuah desa di negeri Belanda.

Kampung Amerongen bersebelahan dengan Pulau Tatas, tempat berdirinya Benteng Tatas (sekarang Masjid Raya Sabilal Muhtadin). Persisnya diperkirakan berada di sekitar eks kantor gubernur lama di Jalan Sudirman.

Nah, ketenaran nama Amerongen juga didukung munculnya sebuah klan yang pernah berkarir di Hindia Belanda sebagai ambtenaar. Salah satunya WFH van Amerom, Gubernur Pantai Barat Sumatera.

Lalu anggota resimen pasukan elit The Dutch Indian Brigade, Letkol GG Baron Taets van Amerongen. Pasukan ini berangkat ke Nusantara pada 1815.

Kemudian tercatat nama korban perang tahun 1943, yakni Albert Lodewijk Alexander van Amerom yang dibunuh Jepang di Banjarmasin.

Kembali ke Kampung Amerongen, catatan tertua tentang nama kampung ini muncul pada tahun 1756 ketika Belanda mendirikan Fort Tatas.

"Urang Banjar umumnya menyebut benteng ini Kampung Loji. Bersamaan disebut kampung lain seperti Kampung Cina, Kampung Antasan, hingga Kampung Amarong," sebutnya.

Catatan tahun 1838 juga menyebut nama kampung ini. Bersama dengan Kampung Pekapuran, Kelayan Besar, Bagau dan Basirih. "Jumlah penduduknya tercatat 300 jiwa," kata Mansyur.

Dalam perkembangannya, Kampung Amerongen menjadi tempat kediaman Residen Belanda.

Pada bagian depan rumahnya mengalir sungai Martapura. Kala itu, Amerongan menjadi kampung terbesar di seberang Sungai Mesa.

Pembangunan rumah residen ini bersamaan dengan penetapan Banjarmasin sebagai ibu kota Borneo pada tahun 1849.

Sebagai strategi politik, diterapkan segregasi permukiman berdasarkan etnis. Di mana pusat kota adalah permukiman warga Eropa, berada di Jalan Resident de Haanweg (sekarang Jalan Lambung Mangkurat).

Sementara permukiman serdadu dipusatkan di Kampung Amerongan. Kemudian di seberangnya ada Pecinan (sekarang Jalan Pierre Tendean). Sementara di Pasar Lama ada Kampung Bugis. Berdekatan dengan Kampung Arab.

Pembangunan rumah residen di Kampung Amerongan disengaja karena letak strategisnya. Pemerintah dapat mengawasi aktivitas Sultan Tamjidillah II yang bermukim di Kampung Keraton (Sungai Mesa).

Sekitar tahun 1918-1919, jalan di kampung ini diperbaiki. Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 70-an, namanya berubah menjadi Jalan Tugu. Lalu berubah lagi menjadi Jalan Sudirman. (mof/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian