Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tekad untuk Kembali Berjaya

Muhammad Helmi • Senin, 12 Desember 2022 | 21:19 WIB
CERITA: Iyan, 49 tahun, mengenang kesenian kuda gipang yang pernah sangat populer di Tapin. | FOTO: RASIDI FADLI /RADAR BANJARMASIN
CERITA: Iyan, 49 tahun, mengenang kesenian kuda gipang yang pernah sangat populer di Tapin. | FOTO: RASIDI FADLI /RADAR BANJARMASIN
Kesenian kuda gipang di Desa Pandahan berhadapan dengan perkakas yang aus dan sulitnya mencari generasi penerus.

RANTAU - Desa ini berada di Kecamatan Tapin Tengah Kabupaten Tapin. Luasnya hanya sekitar 4,2 kilometer. Desanya ramai, tapi tenteram.
Di sini kebudayaan dan kesenian tumbuh subur. Dari sinilah kesenian kuda gipang di Bumi Ruhuy Rahayu berkembang.

Salah seorang tetua desa, Iyan memulai ceritanya dari seorang perempuan yang menikahi pria asal Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Nama laki-laki itu Masrani. "Dialah yang mengajarkan kesenian kuda gipang di sini. Orang tua saya termasuk yang terlebih dahulu menguasainya. Baru kemudian saya," kata warga Desa Pamatang Karangan Hilir ini kepada Radar Banjarmasin, kemarin (11/12).

Dari Desa Pandahan, kuda gipang menyebar ke desa-desa lain di Tapin. Hingga terbentuk Pancasona, grup kesenian yang kondang itu.

"Kami sering diundang orang untuk tampil di Banjarmasin. Kebanyakan untuk acara kawinan dan hari-hari penting. Paling jauh sampai Tenggarong," tambah pria kelahiran tahun 1973 ini.

Namun, sejak memasuki tahun 2000-an, kesenian ini mulai memudar. Seiring bubarnya Grup Pancasona. Alasannya, tidak ada penerusnya.
"Hingga sekarang tersisa dua orang saja yang bisa memainkannya. Saya dan seorang teman," ujarnya lirih.

Iyan sempat ingin membangun ulang grupnya. Tetapi memang tidak mudah. Banyak kendala yang ditemui. "Peralatan yang hilang dan rusak dimakan usia," tuturnya.

Dari generasi muda, beberapa tertarik belajar. Lagi-lagi terkendala perkakas pertunjukan.

Dia pun memohon kepada aparat desa dan Dinas Pariwisata untuk membantu. "Cukup sediakan alatnya saja, nanti kami yang mengembangkan," janjinya.

Kuda gipang telah lama hidup di tengah masyarakat Banjar, Kalsel. Kesenian ini berasal dari Desa Pangaribuan Kecamatan Haruyan Kabupaten HST.

Busana pemainnya disebut pakaian kida-kida. Diiringi dengan musik gamelan Banjar. "Gerakannya berupa langkah empat maju mundur, kiri kanan berhadapan, berbelakang dan lingkaran," pungkas Iyan. (dly/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian