Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Inilah Parang yang Dipakai Sultan Adam

Muhammad Helmi • Rabu, 30 November 2022 | 13:57 WIB
PARANG BUNGKUL: Terlihat sederhana,tapi sebenarnya parang bungkul memiliki banyak jenis. Dibedakan dari bentuk bilah dan pangkalnya.
PARANG BUNGKUL: Terlihat sederhana,tapi sebenarnya parang bungkul memiliki banyak jenis. Dibedakan dari bentuk bilah dan pangkalnya.
Pemakai parang bungkul, tersebar hampir di seluruh daerah Kalimantan Selatan. Lebih populer di tengah masyarakat Hulu Sungai.

BANJARMASIN - Parang bungkul memiliki bentuk sederhana, bilahnya terlihat agak membungkuk. Melebar ke ujung.

Bagian puhun (pangkal bilah parang) berbentuk ramping, ujung bilah bawahnya agak membulat.

Pemerhati budaya Kalsel, Nurmaulidiani Awaliyah mengatakan, parang bungkul digunakan sebagai senjata dan peralatan pertanian.

Parang bungkul yang dipakai sebagai senjata, tidak digunakan untuk bertani. Begitu pula sebaliknya.

Sekadar diketahui, dalam buku 'Eksotisme Parang Tradisional Kalimantan Selatan', pada zaman dahulu parang bungkul biasa digunakan sebagai senjata untuk berperang. Seperti yang dipakai oleh Sultan Adam, Selangga Darah dari Kandangan, dan Datu Pujung dari Rantau.

Menurutnya, ada beberapa jenis parang bungkul. Di antaranya adalah parang bungkul kandangan, parang bungkul tangi, dan parang bungkul warik mangantuk. Perbedaannya terletak pada bentuk bilahnya.

Perempuan yang duduk sebagai Pengurus Daerah Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) Kalsel itu menerangkan, parang bungkul kandangan dan tangi hanya memiliki sedikit perbedaan pada betuk bilahnya.

Yang pertama, puhunnya lebih kecil dan ramping. Sedangkan yang kedua puhunnya tidak terlalu kecil.

Parang bungkul warik mangantuk misalnya. Memiliki ciri bilah yang lebih membungkuk ke bawah (menunduk) jika dibandingkan dengan kedua jenis parang bungkul lainnya.

"Bagian puhunnya kecil dan bagian ujungnya melebar membulat," ungkapnya.

Dinamakan begitu karena bentuk ujungnya yang terlihat menunduk, persis seperti seekor monyet yang dalam bahasa Banjar disebut warik.

Sisi lain, perempuan yang akrab disapa Alid itu menjelaskan, bahwa parang bungkul merupakan jenis parang yang memiliki banyak fungsi.

Untuk aktivitas keseharian masyarakat, biasa digunakan untuk marimba atau memotong batang pohon. Selain itu juga digunakan untuk memotong ranting pohon, batang kayu, dan menebas rumput.

"Parang bungkul yang diperuntukkan sebagai peralatan pertanian biasanya dibuat dengan bahan besi muda tanpa ornamen berupa pamor," jelasnya

Selain sebagai senjata dan alat pertanian, juga ada yang menjadikan parang bungkul sebagai azimat dalam berdagang, yaitu sebagai "syarat" agar usaha orang yang meyakininya laris manis. Dalam bahasa Banjar, disebut panglaris.

"Biasanya azimat berdagang ini bilahnya terbuat dari jenis besi tua dan memiliki ornamen khusus untuk syarat berdagang seperti pamor ringgit," imbuhnya.

Alid menambahkan, ada juga parang bungkul yang digunakan sebagai ganggaman atau pegangan yang dipercaya memiliki tuah untuk kewibawaan atau kharisma penggunanya.

"Biasanya parang dengan fungsi ini akan dibawa kemana-mana oleh pemiliknya dengan tujuan orang lain akan segan dan hormat ketika bertemu," tuturnya.

Bilah parangnya biasanya memiliki ornamen berupa pamor barantai (kedudukan), pamor surban (kharisma), dan pamor selendang mayang (memasyarakat atau membaur).

"Selain fungsi-fungsi tadi, parang bungkul juga termasuk salah satu jenis parang yang dijadikan sebagai benda pusaka," ujarnya.

Umumnya parang itu dipercaya bertuah, atau pernah digunakan dalam suatu peristiwa yang bersejarah di masa lalu.

"Biasanya bilahnya berupa wasi tuha (besi tua)," tuntas Alid. (mr-158/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian