BATULICIN - Sumur itu berada dalam kompleks Kubah Pagatan. Berseberangan dengan makam Datu Arsyad Lamak.
Para peziarah dari luar kota yang datang ke sana, biasa mencoba meminum sedikit air sumur itu. Menuntaskan rasa penasaran. Sebagian ada yang memasukannya dalam jeriken untuk dibawa pulang.
Faktanya, air tanah di Pagatan mayoritas tidak dapat dikonsumsi. Airnya pekat, lengket dan berbau. Kalau mau dipakai, biasanya diendapkan dulu dalam wadah berisi tawas.
Kondisi itu tidak berlaku di sumur Kubah Pagatan. Airnya jernih dan rasanya seperti air mineral kemasan.
Konon sumur itu dulu dibuat oleh Datu Arsyad Lamak. Cicit Syekh Muhammad Arsyad al Banjari alias Datu Kelampayan.
Dia sempat berguru ke Makkah. Menimba ilmu dari Syekh Ahmad Dimyati, Syekh Yusuf dan Syekh ar Rahbini.
Kemudian balik ke Banua dan diangkat menjadi mufti Kesultanan Banjar. Salah satu muridnya adalah Sultan Adam.
Suatu waktu, Arsyad Lamak ingin berangkat haji. Tapi dia lewat Pagatan, sekalian menjenguk kakaknya di sana, Abu Tholhah.
Di pesisir itulah Arsyad Lamak membuat sebuah sumur. Entah karena kebetulan atau memang karamah, air sumur itu bisa dikonsumsi.
Namun ulama ini kemudian jatuh sakit dan wafat. Dimakamkan di pinggir pantai, hanya berjarak 20 meter dari sumur.
Penjaga makam, Badrul Huda mengatakan, banyak peziarah yang datang dan penasaran tentang sumur itu.
Bahkan ada cerita, ketika warga lokal diserang wabah gatal, mandi air sumur, tidak lama kemudian sembuh.
Bagi warga Pagatan, zaman dulu ketika beli sepeda motor baru, bukan pemandangan aneh ketika mereka langsung membawanya ke sumur. Memandikan motornya dengan harapan kendaraannya bisa menjadi teman yang baik dalam mencari rezeki.
Tapi Badrul berpesan. Agar para peziarah jangan mendewakan sumur dan makam. Tetaplah bersandar pada Tuhan.
Dari tahun ke tahun, seiring semakin maraknya bisnis wisata religi, pengunjung Kubah Pagatan juga terus meningkat.
Kubah dan misteri sumur secara tak langsung memberikan dampak positif bagi perekonomian warga sekitar. Walau memang, konsep pengelolaan ekonomi di sekitar kubah masih berjalan tradisional, belum dikelola dengan baik.
Nurmala, penjual kerajinan tangan di sana, pernah ketiban durian runtuh. Dia lupa hari dan tahunnya. Yang dia ingat, saat itu pusing bukan kepalang, tagihan bulanan harus segera dibayar.
Tiba-tiba, entah datang dari mana, seorang peziarah mendatanginya dan memberinya uang. "Tiba-tiba saja, padahal sudah hampir putus asa," kenangnya.
Dia menyarankan agar pemerintah daerah bisa lebih banyak memberi bantuan. Supaya usaha kecil yang bermain dalam bisnis wisata religi bisa mengembangkan dirinya.
Jadi tidak melulu hanya dagang kue dan cincin kayu. Tapi lebih beragam dan inovatif, supaya wisatawan betah berlama-lama di sana. (zal/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi