BANJARBARU - Secara pembagian wilayah, Kota Banjarbaru dibagi menjadi lima kecamatan: Banjarbaru Utara, Banjarbaru Selatan, Cempaka, Landasan Ulin dan Liang Anggang.
Liang Anggang menjadi salah satu wilayah yang paling familiar. Maklum kawasan ini menjadi perlintasan antar kabupaten kota.
Selain dikenal sebagai kawasan perlintasan, mungkin masyarakat umum lebih banyak mengenal Liang Anggang dengan bundaran simpang empatnya.
Di tengah-tengahnya ada makam Pahlawan Nasional, Brigjen (Purn) Hasan Basry juga membuat Liang Anggang kian ikonik di mata publik.
Namun, meski familiar dan tergolong mudah diingat. Rupanya tak banyak yang mengetahui asal muasal penamaan Liang Anggang.
Memang belum ada catatan pasti yang memastikan kisah di balik penamaannya. Namun menurut beberapa sumber, nama Liang Anggang berasal dari dua kosa kata.
Paling umum berkembang di tengah masyarakat adalah berasal dari kata Liang yang bermakna 'lubang' serta Anggang yang berarti 'renggang' atau 'berjarak'. Bisa diartikan lubang yang besar. Dipercayai diambil dari bahasa Banjar.
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur dalam beberapa paparannya mengatakan, penamaan ini bersumber dari cerita lisan masyarakat Banjar.
Dosen FKIP itu juga menyebut ada versi lain, bahwa nama Liang Anggang bermakna atau berkaitan dengan sarang burung enggang.
Konon, dulunya kawasan Liang Anggang dikenal karena habitat burung enggangnya. Namun seiring waktu, keberadaan burung ikonik ini mulai punah.
Secara tahun, Liang Anggang dipercaya mulai dikenal namanya sejak ratusan tahun silam. Diperkirakan sudah eksis sejak tahun 1800 an. Namun, kembali lagi, tak ada yang pasti perihal informasi ini.
Pada zaman sekarang, kebanyakan warga Liang Anggang membenarkan kedua versi tersebut.
Salah satu yang menguatkannya, dataran atau kontur di Liang Anggang cenderung rata, ditambah ada cerukan seperti lubang.
Sebut saja M Kadir. Ia mengaku pernah diceritakan oleh kakeknya jika dahulu di kawasan ini konturnya tergolong rendah. Bahkan ujarnya sempat ada danau atau waduk besar.
"Kakek saya itu wafat tahun 95-an. Nah, kata beliau dulu Liang Anggang itu hamparan datar yang rata, seperti turun ke bawah tanahnya. Makanya disebut Liang Anggang," kata warga asli Liang Anggang ini.
Namun ia pun menyadari jika tak ada kisah asli atau absolut dari sejarah Liang Anggng. Bahkan warga setempat hanya sedikit yang tahu (atau mau tahu).
"Buku sejarahnya pun mungkin tak ada. Saya jujur kurang begitu tahu juga. Satu-satunya pegangan ya kisah dari almarhum kakek. Tapi memang banyak yang percaya soal versi itu tadi, soal lubang besar," ungkapnya. (rvn/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi