Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mulawarman, Niat Mulia yang Kandas

Muhammad Helmi • Senin, 21 November 2022 | 14:04 WIB
DISAMBUT PELAJAR: Gubernur Kalimantan, Milono ketika meninjau Kampung Pelajar Mulawarman.
DISAMBUT PELAJAR: Gubernur Kalimantan, Milono ketika meninjau Kampung Pelajar Mulawarman.
Kompleks Pelajar Mulawarman bertahan melewati Orde Lama dan Orde Baru. Pembangunannya meleset dari perencanaan awal.

BANJARMASIN - Kompleks Pelajar Mulawarman berada di Banjarmasin Tengah. Pada zaman dahulu, disebut perkampungan pelajar, belum kompleks.

Di sini berkumpul sekolah dari semua jenjang. Taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan kejuruan (SMA-SMK), bahkan madrasah.

Memiliki sejarah panjang, kompleks pendidikan ini digagas Gubernur Kalimantan, Raden Tumenggung Aryo Milono yang menjabat periode 1955-1957. Kala itu, Provinsi Kalimantan belum dimekarkan.

Berawal dari sejumlah tokoh yang membentuk yayasan untuk membantu pemerintah dalam membangun gedung dan asrama sekolah.

Nama yayasan itu Jajasan Kesedjahteraan Peladjar Kalimantan. Diketuai Milono dan dibantu Residen Afloes.
Keduanya begitu berjasa, sampai-sampai Milono dijuluki Bapak Pendidikan Kalimantan.

"Beliau adalah Gubernur Kalimantan kedua sesudah Pangeran Muhammad Noor dengan ibu kota berkedudukan di Banjarmasin," kata Ketua Lembaga Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan, Mansyur kepada Radar Banjarmasin, kemarin (20/11).

Milono lahir di Pekalongan, 31 Maret 1896. Mengawali kariernya sebagai Wedana di Slawi, Tegal. Kemudian diangkat sebagai Mantri Polisi Tegal, hingga Sekretaris Kabupaten Kelas I Banyumas.

Semenjak tanggal 10 Maret 1936, ia diangkat menjadi Bupati Pati. Berikutnya Milono bertugas di Kalimantan sejak tahun 1955. Sementara Afloes adalah Residen Banjarmasin dari tahun 1954 sampai 1957.

Seiring pergantian gubernur dari Milono kepada dr Murdjani, cita-cita kompleks pelajar itu tetap menjadi prioritas pembangunan di Kalimantan.

"Tahun 1953-1954 dimulai secara bertahap pembangunan gedung sekolah yang sekarang dikenal dengan Kampung Pelajar Mulawarman," tambah Mansyur.

Nama Mulawarman diberikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mr Muhammad Yamin. Mengabadikan nama Raja Kutai Lama, kerajaan tertua di Nusantara.

Saat awal berdiri, kampung ini menjadi kebanggaan orang Banjar. Di sana ada "wali kota" dan "DPR" sendiri, hingga ketua RT-nya juga para pelajar. Mulawarman bahkan punya pemilunya sendiri.

Otonomi itu memang sengaja diberikan pemerintah daerah. "Pendiri perkampungan ini, Milono-Afloes ingin mempraktekkan hasil peninjauannya pada sebuah kampus di Amerika Serikat," sebut dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) itu.

Memang, mulanya Mulawarman dirancang sebagai sebuah kampus yang otonom.

Jauh sebelum itu, kawasan ini merupakan tangsi militer. Banyak terdapat asrama tentara yang mudah dialihfungsikan tanpa harus mengeluarkan ganti rugi mahal. Gejolak sosial juga bisa dihindari.

Selain itu, Mulawarman diniatkan sebagai perkampungan pelajar yang heterogen. Semua siswa dari beragam asal-usul diterima dengan tangan terbuka. Terlepas dari perbedaan etnis, agama dan kelas sosial.

Milono-Afloes rupanya ingin tercipta kompetisi sehat dan toleransi tinggi di Mulawarman.
Dalam perkembangannya, kenyataan berjarak jauh dari harapan.

Mansyur mengutip tulisan terbitan tahun 1962 dari Kodam X/LM. Dituturkan, di Mulawarman gedung dan asrama sekolah dibangun berdempetan. Di sela-selanya ada rumah-rumah para guru. Tercatat ada 17 sekolah di Mulawarman.

Namun, ternyata Mulawarman tidak berkembang menjadi perkampungan yang sesungguhnya. Dari 5.500 pelajar yang bersekolah di Mulawarman, kurang lebih hanya 500 pelajar yang tinggal di sana.

Otonomi yang diberikan juga membuat pelajar kurang mengindahkan arahan gurunya. Pengajar kehilangan kewibawaan dan demoralisasi mengancam muridnya.

Kesimpulannya, suatu cita-cita mulia telah gagal dilaksanakan. "Rencana semula yang sebenarnya baik, tidak terlaksana. Kerugian materil dan morilnya tidak sedikit," tutup Mansyur. (mof/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#banjarmasin #Tahulah Pian