Penyerangan ini digagas oleh 12 pejuang. Dipimpin oleh Aberani Sulaiman. Tujuannya mencegat rombongan tentara Belanda yang akan menuju Hambawang Pulasan.
Tentara belanda masuk perangkap para pejuang di Hulu Sungai Tengah (HST). Truk yang ditumpangi tentara Belanda terguling. Setelah sopir ditembak oleh Aberani Sulaiman. 48 orang tentara Belanda tewas dalam pertempuran itu.
Melihat tentara Belanda tewas, seorang pejuang bernama Madekawis turun dari atas gunung. Berusaha mendekati mobil truk yang terbalik. Dia bermaksud ingin mengambil senjata bren gun milik Belanda.
Begitu Madekawis berada di atas truk, tiba-tiba terdengar bunyi mobil truk dari belakang. Bala bantuan tentara Belanda datang. Mereka menembak Madekawis, dan langsung tersungkur.
“Mobil truk itu berisi tentara KNIL Belanda yang datang belakangan. Langsung menghujani tembakan tepat mengenai tubuh Madekawis. Ia luka tembak sangat parah,” kata pegiat Sejarah HST, Masruswian.
Melihat Madekawis tersungkur berlumuran darah, Aberani Sulaiman dan pasukan pejuang lainnya bergegas menyelamatkan Madekawis. Terjadi adu tembak antar keduanya. “Disertai teriakan histeris membuat suasana Hambawang Pulasan semakin mencekam,” sambungnya.
Aberani Sulaiman dan pejuang lainnya mencoba bertahan. Diceritakan saat itu tentara Belanda lebih kuat. Disertai persenjataan yang lengkap. Pertempuran pun tidak seimbang. “Dari 12 pejuang, hanya 7 orang bersenjata. Sedangkan 5 lainnya tidak,” bebernya.
Sementara perang masih berlangsung terdengar deru mobil truk tambahan. Di situasi ini pasukan para pejuang mulai kewalahan. Melihat kondisi pertempuran yang tidak seimbang. Aberani Sulaiman memerintahkan kepada pasukannya untuk mundur berpencar. “Mereka sambil membopong tubuh Madekawis yang terluka karena tembak ke tempat aman,” ceritanya.
Strategi mundur dengan berpencar, membuat Belanda kebingungan. Mereka tidak melakukan pengejaran. Akhirnya mereka kembali untuk mengurus teman-temannya yang tewas.
Sementara para pejuang, Damanhuri dan kawan-kawan menuju Birayang. Sedangkan Aberani Sulaiman dan Tuhani bersembunyi di Tapuk. Madekawis yang dibawa Utuh Kandangan akhirnya tewas dalam pelarian. Sementara Utuh Kandangan dapat menyelamatkan diri.(mal/gr/dye) Editor : Muhammad Helmi