Maturi Dahar diisi dengan acara zikir, selawat, doa, hingga makan bersama. Di Banjarmasin, tradisi ini digelar tiap tahun. Bertepatan pada tanggal mangkatnya Raja Banjar, Sultan Suriansyah.
Ketua Yayasan Restu Sultan Suriansyah, Syarifudin Nur menjelaskan bahwa Maturi Dahar adalah media silaturahmi yang sakral antar zuriat dan masyarakat. Di sini mengenang jasa leluhur atau pendahulu.
Mempererat tali silaturahmi, hingga pelestarian adat istiadat. "Maturi Dahar adalah bentuk syukur kepada Allah SWT. Terkait karunia iman dan Islam dari zaman Pemerintahan Raja Banjar Sultan Suriansyah, hingga sekarang," ujarnya.
Dahulu, Maturi Dahar hanya digelar bergantian di tiap-tiap rumah para zuriat. Kini dipusatkan di area makam Sultan Suriansyah tiap tahun.
Di sisi lain, Maturi Dahar rupanya memiliki makna lain. 'Menyediakan makanan untuk para leluhur'.
Jauh sebelum Agama Islam berkembang hingga resmi menjadi agama di Kerajaan Banjar, ritual ini dahulu juga menjadi sarana tolak bala. Supaya ketentraman kehidupan masyarakat pada masa itu terwujud.
"Dahulu, penyediaan makanan itu disebut sesaji. Biasanya dilarung ke sungai atau ke laut," bebernya.
Masuknya Agama Islam, ritual ini pun disesuaikan dengan ajaran syariat Islam. Diisi dengan zikir, selawat, hingga doa kepada Allah SWT.
Penganan yang disediakan pun tak lagi dilarung ke sungai atau ke laut. Tapi, dinikmati bersama. "Menghindari mubazir, hingga perbuatan syirik," ungkap Syarifudin.
Maturi Dahar juga menampilkan berbagai jenis pusaka. Ada pusaka koleksi kerajaan yang disimpan para zuriat, hingga milik masyarakat. Pusaka-pusaka itu dijejer di atas kain putih. Lalu dijamas atau dilakukan pembersihan. Pencucian dengan air yang sudah dicampur bunga rampai.
Selesai dijamas, pusaka dikeringkan. Sebagian di antaranya diolesi minyak khusus agar tidak berkarat. Kemudian, pusaka pun diangin-anginkan melalui asap dupa yang mengepul.
Ritual ini biasanya jadi tontonan warga. Juga dinanti-nantikan oleh pencinta tosan aji di berbagai daerah di Kalsel.
Melihat antusias pengunjung pada gelaran itu, tentu tersirat sejumlah harapan. Syarifudin berharap seiring dengan perkembangan zaman, warga tak lupa akan sejarah. Tak lupa akan leluhur.
"Jadi, mereka tidak hanya mengenal Maturi Dahar hanya sebatas ajang kumpul-kumpul," ucapnya. "Ini juga momen untuk memperingati sejarah," tutupnya.(war/gr/dye) Editor : Muhammad Helmi