Oleh masyarakat Kabupaten Kotabaru, ia dikenal sebagai seorang musikus kondang.
Di Kalimantan Selatan pun ia dikenal sebagai penulis lagu Banjar kontemporer yang andal.
Total, Rudi sudah mencipta 15 lagu. Liriknya bercerita tentang legenda lokal, hingga percintaan zaman sekarang.
Darah seni rupanya sudah mengalir dalam nadi Rudi.
Ayahnya, Bakhtiar Sanderta juga seorang seniman. Satu angkatan dengan Anang Ardiansyah, pencipta lagu Paris Barantai.
Sejak kecil, Rudi sudah tertarik dengan kesenian. Puncaknya kala kuliah di FISIP Universitas Lambung Mangkurat. Rudi lulus tahun 2000, lebih dari dua dekade yang lewat.
Di perkuliahan, ia bergiat dan berkreasi di organisasi Kampung Seni Budaya. Hampir semua alat musik berhasil dikuasainya.
Memasuki dunia kerja, ia tak ingin jauh-jauh dari kesenian. Rudi sekarang bekerja di Dinas Pariwisata Kotabaru, sebagai Kabid Pertunjukan dan Event.
"Kapan lagi bisa bekerja sambil menekuni hobi," ujarnya kemarin (3/11).
Bait lirik Putri Swangi yang melejitkan namanya, diambil dari legenda kerajaan halimunan--lebih dikenal masyarakat Banua sebagai legenda Saranjana.
Lagu tersebut diciptakannya pada 2018. Kala sedang gundah, menyadari khazanah lagu Banjar yang stagnan.
"Begitu Anang Ardiansyah wafat, tidak ada lagi lagu-lagu daerah yang menceritakan tentang legenda lokal," kenangnya.
Dari legenda lokal tentang Kerajaan Halimunan, Rudi memilih sosok Putri Swangi. "Saya kemudian coba menuangkan penggalan cerita itu ke dalam sebuah lagu," terangnya.
Dikisahkan, Putri Swangi adalah anak Panglima Jambangan. Ia jatuh cinta pada Sambu Batung, anak Raja Pangkurindang.
Namun, raja justru menjodohkan putranya dengan Putri Perak. Tokoh utama kita ini, Putri Swangi dilanda kesedihan mendalam.
"Matanya nang baal baru buyan. Samalaman manangis. Mamikirakan junjungan hati," bunyi penggalan lirik itu.
Terjemahnya dalam bahasa Indonesia, "Matanya basah dan sembab. Semalam penuh menangis. Memikirkan pujaan hati." (jum/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi