Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kasih Tak Sampai Putri Sewangi

Muhammad Helmi • Kamis, 3 November 2022 | 14:31 WIB
PULAU KECIL: Foto dari udara Pulau Sewangi yang berdekatan dengan daratan Batulicin.
PULAU KECIL: Foto dari udara Pulau Sewangi yang berdekatan dengan daratan Batulicin.
BATULICIN - Sekitar dua pekan ke belakang, dari atas balkon Cafe Sewangi Hotel Ebony, terdengar lagu-lagu klasik romantis dari negeri jiran.

Sebuah band lokal diundang, khusus untuk menghibur para pecinta lagu tahun 80-an. Masa lalu terasa dekat sekali.
Nun di depan balkon, di tengah kegelapan malam, Pulau Sewangi terlihat teduh.

Pulau itu dekat sekali dengan bibir pantai Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu. Dalam imajinasi, siluet pulau itu umpama manusia yang sedang tertidur.

Dalam hikayat, Sewangi sebenarnya penjelmaan seorang gadis cantik jelita yang hidup di masa Kerajaan Halimunan di Pulau Laut.

Pulau Laut yang berada di seberang Sewangi, konon dulunya sebuah kerajaan besar. Tapi mereka yang tinggal di sana tidak dapat dilihat mata. Makhluk halimunan.

Sewangi adalah putri wakil panglima Jamba Angan. Sejak kecil tinggal di lingkungan istana. Teman sepermainan adalah Putri Perak, anak Panglima Ranggas Kanibungan.

Dua gadis cantik ini dekat dengan dua kakak beradik Sambu Batung dan Sambu Ranjana. Putra dari Raja Pakurindang, sang penguasa kerajaan halimunan.

Diam-diam Putri Perak dan Sewangi jatuh hati dengan pria yang sama, Sambu Batung. Bukan karena Ranjana kalah ganteng, tapi memang pembawaan Batung yang supel.

Walau sama-sama memiliki hati yang baik dan wajah rupawan, sikap Batung dan Ranjana bagai bumi dan langit. Batung ceria, di mana ada keramaian di sana dia bergembira. Ranjana sebaliknya, lebih suka menyendiri.

Keceriaan Batung itulah yang memikat dua putri ini.

Tapi itu zaman lampau. Perempuan belum berani mengungkap isi hatinya. Hanya para orang tua yang jeli, bisa merasa ketika anak-anak mereka sedang dilanda asmara.

Hari berganti, karena sering bertemu, lama-lama Batung dan Ranjana pun terpikat kecantikan kedua putri itu. Batung jatuh hati kepada Perak, sementara Ranjana terpesona kelembutan hatinya Sewangi.

Singkat cerita, Raja Pakurindang tiba-tiba memanggil semua petinggi istana. Termasuk kedua anaknya. Pakurindang ingin istirahat. Bertapa di puncak halimunan.

Sebagai anak tertua, kerajaan dia serahkan ke Batung dan ia jodohkan dengan Perak. Kedua sejoli itu hanya bisa tersenyum, mereka sama-sama menaruh hati.

Jamba Angan yang khawatir dengan putrinya, coba menemui raja. Dia takut, Sewangi akan putus asa. Karena cintanya yang begitu dalam. Tapi raja sudah kadung masuk kamar, artinya tidak bisa diganggu, siap untuk bertapa.

Ketika Pakurindang berangkat ke puncak halimunan, semua mengantarnya. Hanya Sewangi tinggal sendiri. Menangisi kasihnya yang tak sampai.

Ranjana yang diam-diam mengetahui pujaan hatinya mencintai kakaknya sendiri hanya bisa diam. Dia pun semakin larut dalam kesukaannya menyendiri, jauh dari orang banyak.

Waktu berganti. Sambu memimpin Kerajaan Halimunan dengan cakap. Tidak jauh berbeda dengan sang ayah.

Tapi lama-lama raja muda periang itu mulai bosan. Diam-diam dia sering ke dunia manusia. Melihat kota-kota lain yang juga sedang berkembang. Tergerak hatinya menjalin kerja sama.

Terlalu kecil kerajaannya. Terlalu monoton kehidupannya. Walau tak kurang suatu apa. Rasa bosan tinggal di kerajaan pulau menghimpit perasaan Sambu.

Diam-diam di waktu tertentu, Sambu menjalin kerja sama dengan kerajaan lain. Pintu halimunan dia buka sedikit. Hanya orang kerajaan yang tahu mantranya.

Akhirnya, Pulau Halimunan itu terkenal. Semakin banyak kerajaan lain mencarinya. Ternyata dari kalangan dunia luar, juga banyak yang sakti mandraguna. Orang-orang sakti itu coba menyingkap tabir halimunan untuk mengeruk kekayaan alamnya.

Ranjana yang terluka karena cinta, ditambah mengetahui pelanggaran berat kakaknya marah sejadi-jadinya. Keluarga kerajaan sudah siap berperang.

Kakak adik saling berhadapan. Siap adu kesaktian. Tapi tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar. Tabir halimunan pecah. Jika tidak segera ditutup, keberadaan mereka akan segera diketahui manusia.

Panglima Ranggas Kanibungan menenangkan dua putra raja itu. Mengajak mereka bersatu. Untuk melawan kesaktian orang-orang dari manusia di luar pulau.

Tujuh malam dua putra raja dan para panglima adu kesaktian dengan manusia. Dan tiba-tiba di dalam kerajaan terdengar suara gaib Pakurindang.

Raja yang sudah melepas urusan dunia itu bersabda. Halimunan sudah takdir untuk tersingkap. Tidak ada yang bisa dilakukan.

"Anakku Sambu, pergilah kau ke utara. Hiduplah dengan manusia. Seperti keinginanmu semula. Ranjana pergilah ke selatan, dirikanlah kerajaan halimunan seperti cita-citamu. Aku restui jalan hidup kalian," ujar Pakurindang.
Itulah awalnya Pulau Laut tersibak.

Ranjana coba mengajak Sewangi ke selatan. Tapi hati wanita itu sudah begitu patah. Sejak Sambu dan Perak menikah, dia terus-terusan menangis.

Tempat kesukaannya di tepi pulau, berhadapan dengan daratan Batulicin. Dia bersumpah di bawah langit halimunan, tidak akan pernah mau menikah.

Ketika semua tabir halimunan sudah terbuka, banjir besar datang. Sewangi membiarkan dirinya larut dalam bencana besar itu. Akhirnya hanyut dekat Batulicin, terbaring mengapung di atas laut.

Karena sumpahnya ingin sendiri itulah dia kemudian menjelma menjadi pulau. Di kejauhan dia masih bisa menatap bagian utara pulau tempat kekasih hatinya tinggal.

Kisah itu diceritakan turun-temurun di Pulau Laut. Kemudian dibukukan tiga sastrawan Najam M Sulaiman, M Syukri Munas, dan Eko Suryadi WS. Dalam Hikayat Sa'ijaan dan Ikan Todak.

Versi lain Sewangi, pernah dituturkan anggota DPRD Tanah Bumbu Abdul Rahim. Dulunya pulau itu terbentuk akibat perkelahian ular sawa raksasa dan buaya.

Ular itu kalah dan tewas. Raganya terdampar di sebuah gunung di laut, depan Batulicin. Lama-lama raga ular itu ditumbuhi pohon, hingga menjelma jadi pulau yang beraroma wangi. (zal/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian #Tanah Bumbu