Menjelang gelap, terminal ini justru semakin ramai. Banyak yang berdagang di sini. Masyarakat Pelaihari menyebutnya pasar malam.
Disebut tanah habang, secara kasat mata, memang terasa pas. Sebab tanah di sekitar terminal ini terlihat memerah.
Namun, penamaan tanah habang sebenarnya terkait erat dengan sebuah legenda. Menurut cerita orang tua terdahulu, di Pelaihari pernah ada yang babi purba, namanya pulangari.
Alkisah, babi sebesar anak kerbau itu hanya memiliki tiga helai bulu. Warnanya berbeda-beda: merah, hitam dan putih. Membuatnya dijuluki Si Tiga Warna.
Kerap bergerombol, kawanan babi ini sungguh rakus. Memakan tanaman apa saja yang ada di hadapannya.
Warga asli Pelaihari, Yani menceritakan, keberadaan pulangari membuat masyarakat resah. Hingga diputuskan untuk memburu dan membunuhnya.
"Namun warga kesulitan menangkapnya," ujarnya kemarin (1/11).
Setelah berbulan-bulan, babi-babi itu berhasil dijebak. "Setelah dikurung, masyarakat ramai-ramai menusuk dan mencincangnya," tambah pria 50 tahun itu.
Dibunuh dengan sadis, darahnya muncrat dan meleleh ke mana-mana. Konon, darah dari Si Tiga Warna itu meresap jauh ke dalam tanah. Mengubah kawasan itu memerah.
Dulu kawasan ini disebut Kampung Gedang. Kini dikenal dengan nama Pasar Tuntung Padang. Masih termasuk dalam kawasan Terminal Tanah Habang.
"Akhirnya masyarakat mengenal daerah itu karena warna tanahnya, habang (merah)," tutup Yani. (sal/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi