Tahulah Pian kali ini berbincang dengan Sar Ifansyah. Dia Camat Telaga Langsat.
"Dahulu di kawasan ini hanya ada tiga desa: Desa Riam Talu, Desa Hamak dan Desa Banua Hanyar," sebutnya, belum lama tadi.
"Konon, kala itu di sini banyak tumbuh pohon langsat. Buahnya melimpah, tapi harganya sangat murah. Langsat hampir tidak punya nilai sama sekali," tambahnya.
Langsat kerap disalahpahami. Disamakan dengan buah duku, padahal berbeda. Walaupun masih berkerabat, sama-sama berasal dari famili Meliaceae.
Langsat adalah tanaman yang tumbuh di Asia Tenggara. Nama ilmiahnya Lansium domesticum.
Meski rasanya kecut dan segar, warga desa tak bisa menjual langsat ke kota. Sebab kala itu kawasan ini hanya memiliki jalan setapak. Akses menjadi masalah utama.
Langsat pun dibiarkan berserakan di tanah. Dibiarkan terinjak-injak. Air buahnya sampai muncrat. Saking banyaknya, jalan pun menjadi becek.
"Dari perkataan orang-orang yang lewat itulah, air dari buah langsat yang terinjak ini diibaratkan seperti telaga," tutur Sar Ifansyah.
Sejak itu, nama Desa Banua Hanyar berganti menjadi Desa Telaga Langsat.
Akses jalan membaik, langsat pun memiliki nilai ekonomis. Sekarang, masyarakat Kalsel senantiasa menunggu musim buah langsat.
Jika musimnya tiba, muncul pedagang dadakan di tepi jalan. Menjajakan buah yang kaya dengan kalsium, zat besi dan vitamin C tersebut.
Pada 2 Desember 1950, Kabupaten HSS lahir. Tokoh-tokoh masyarakat kemudian bersepakat, mengambil nama desa ini menjadi nama kecamatan.
Pada mulanya, Kecamatan Telaga Langsat memiliki 17 desa. Tapi pada tahun 1999 terjadi pengerucutan. Bertahan sampai sekarang dengan 11 desa. (shn/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi