Tugu ini dibangun untuk menggantikan tugu lama yang dibangun Belanda. Di sana, penjajah membangun tugu untuk mengenang serdadunya yang gugur dalam perang.
Begitu lapangan itu direbut pejuang, tugu peninggalan Belanda dirobohkan. Dibangun yang baru.
Maka, melihat usianya, Tugu Keris jelas lebih tua dari Monumen Nasional di Jakarta. Sebab Monas baru mulai dibangun pada Agustus 1961.
Mengapa mengambil bentuk keris? Senjata tajam itu dipilih sebagai simbol perjuangan.
Di bagian prasasti, tertulis, "Bagi mereka yang gugur. Djasadmu boleh hantjur. Djiwamu tetap hidup."
Wakil Ketua Dewan Kesenian HST, Masruswian menjelaskan, inspirasi tulisan itu datang dari Muhammad Kasim. Ia seniman asal Desa Jatuh Kecamatan Pandawan.
Kala itu, Kasim mengusulkan kalimat "jasadmu boleh hancur, jiwamu tetap hidup" kepada Abdul Ghalib, Kepala Pekerjaan Umum Seksi Barabai.
Galib menerimanya. Sembari menambahkan "bagi mereka yang gugur".
Beberapa tahun kemudian, dibangum lagi tugu dengan model dan ukuran identik. "Tempatnya di Makam Pahlawan Kusuma Bangsa di Desa Pagat Kecamatan Batu Benawa," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Ahad (16/10).
Masrus, sapaan akrabnya, menekankan tugu ini dibangun untuk mengingatkan generasi muda.
"Bahwa kita patut bersyukur. Berterima kasih kepada pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raganya dalam memperjuangkan kemerdekaan," tutupnya. (mal/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi