Di kalangan masyarakat lokal, cerita "satu badan dua makam" itu sangat populer.
Radar Banjarmasin lantas mengunjungi makam yang berada di Desa Pakacangan tersebut.
Makam ini berada di sisi utara dari pertemuan tiga aliran sungai. Yakni Sungai Tabalong, Sungai Balangan, dan Sungai Nagara.
Seperti halnya ziarah Wali Songo di Tanah Jawa, di sini peziarah datang untuk berdoa. Menyampaikan hajat yang belum kesampaian.
Lalu, siapa sebenarnya sosok ulama ini? Tak ada tanggal pasti, tapi nama Sulaiman pertama kali mencuat pada abad 18.
Tokoh desa Junaidi menuturkan, dari cerita orang tua terdahulu, Sulaiman berasal dari Martapura. Saat remaja beliau datang ke Amuntai dengan menumpang kapal dagang dari arah Sungai Nagara.
Sulaiman muda diasuh oleh Datu Burung. Tinggal di Desa Padang Basar (setelah pemekaran, sekarang berganti nama menjadi Desa Murung Karangan).
Konon, karamahnya sudah terlihat sejak kecil. Bila tangannya menyentuh lapak seseorang, dagangannya sontak laris manis.
Junaidi melanjutkan, Sulaiman dan warga bahu-membahu membangun Masjid Pakacangan. Tempat ibadah itu masih berdiri sampai hari ini. Walaupun wajah asli masjid sudah tak terlihat karena beberapa kali direnovasi.
Menjelang dewasa, Sulaiman bersahabat dengan Datu Bara. Mereka lalu mengajak warga Amuntai untuk rutin salat lima waktu berjemaah di masjid.
Lalu, menyeru mereka untuk memperbanyak salat sunah dan mengaji Alquran. Termasuk mengajar akhlak.
"Saya merasa mengenal beliau sebagai seorang pendakwah dengan ilmu kebatinan yang tinggi," tambah anggota DPRD HSU tiga periode ini.
Sementara itu, dalam buku karangan Anggraini Antemas berjudul Kampung Halamanku, diceritakan peran Syekh Sulaiman dalam perjuangan melawan kolonial Belanda.
Dan bagi yang percaya, diceritakan, pada suatu hari ketika wali ini sedang mandi di dekat sungai, orang-orang terkejut mendengar Sulaiman berteriak.
"Tolong! Ada kebakaran di Makkah!" serunya sembari berkali-kali menyiramkan air dari timba ke tebing sungai.
Warga pun bingung melihat perilakunya. Belakangan, datang rombongan haji dari Banjarmasin ke Amuntai. Mereka mengucapkan terima kasih. Karena ketika maktab (penginapan) mereka mengalami kebakaran, Sulaiman muncul untuk membantu.
Sulaiman kemudian hijrah ke Padang Basar. Pada masa tuanya, pindah ke Pulau Kuwu. Hingga wafat di sana.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di Padang Basar. Tetapi warga Pakacangan terkejut. Karena muncul sebuah kuburan baru, lengkap dengan batu nisannya. Berdekatan dengan masjid yang dulu dibangunnya.
Masyarakat bertanya-tanya, kuburan siapa gerangan. Jawabannya datang lewat sebuah mimpi. Kepada anak dan cucunya, Sulaiman mengakui kuburannya sudah berpindah tempat.
Maka sejak itu Sulaiman pun memiliki dua makam.
Sejak tahun 1972, makam ini ditetapkan sebagai cagar budaya. Pada hari-hari besar keagamaan, makam Syekh Sulaiman kerap ramai dikunjungi peziarah. (mar/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi