Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mengungkap Sosok Patih Masih, Dermawan yang Sakti

Muhammad Helmi • Rabu, 12 Oktober 2022 | 15:15 WIB
PATIH MASIH: Lukisan sosok yang dipercaya sebagai Patih Masih alias Kiai Patih Pangeran Djagabaya. FOTO : YAYASAN RESTU SULTAN SURIANSYAH FOR RADAR BANJARMASIN
PATIH MASIH: Lukisan sosok yang dipercaya sebagai Patih Masih alias Kiai Patih Pangeran Djagabaya. FOTO : YAYASAN RESTU SULTAN SURIANSYAH FOR RADAR BANJARMASIN
BANJARMASIN - Jembatan ini menghubungkan dua kecamatan, Banjarmasin Barat dan Banjarmasin Utara.

Lokasinya dekat sekali dengan Kompleks Makam Raja Banjar, Sultan Suriansyah di Kampung Kuin.

Kembali pada pertanyaan utama, siapa sebenarnya sosok Patih Masih ini. Jawabannya diberikan oleh Ketua Yayasan Restu Sultan Suriansyah, Syarifudin Nur.

Dituturkannya, Patih Masih wafat pada awal abad ke-16. Nama sebenarnya adalah Kiai Pangeran Djagabaya. "Beliau keturunan Patih Simbar Laut Sang Panimba Segara," sebutnya kemarin (11/10).

Diceritakan, Djagabaya adalah seorang pemimpin Dayak Melayu yang arif. Terkenal pemberani dan sakti mandraguna. Bahkan, seorang saudagar kaya yang dermawan.

"Buktinya, beliau menyerahkan seluruh hartanya. Rumah, perabot hingga pengawal pribadinya kepada Pangeran Samudera (Sultan Suriansyah) untuk membangun sebuah pemerintahan kecil di Kampung Kuin," jelasnya.

Tak hanya sampai di situ, Djagabaya juga memiliki banyak pengalaman berhubungan dengan berbagai bangsa dan suku. Menguasai banyak bahasa, mengenal pelosok nusantara hingga mancanegara.

Lalu, tidak jauh berbeda dengan leluhurnya, Djagabaya konon memiliki sejumlah kesaktian.

"Salah satunya, melemahkan semangat buaya. Mampu mengendalikan pikiran buaya untuk tunduk di bawah perintah beliau," tutupnya.

Apakah ceritanya selesai di situ? Tentu tidak.

Dosen sejarah Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur menyebut Djagabaya sebagai tetua dan pemimpin di wilayah Kampung Banjar.

Kampung Banjar merujuk pada nama perkampungan di sekitar Sungai Kuin (Cerucuk) yang bertetangga dengan kampung sekitarnya. Misalnya, Kampung Sarapat, Balandean, Tamban dan Balitung.

Kampung Banjar itu disebut pula Banjarmasih karena dipimpin tetua bernama Patih Masih.

"Patih Masih sebenarnya bukan nama asli. Melainkan nama jabatan. Menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah pemimpin tertinggi semua pemukim berbahasa Melayu di daerah hilir Sungai Barito," jelasnya.

Banjarmasih yang saat itu dipimpin Djagabaya juga merupakan tempat berdiamnya orang Melayu, dalam Bahasa Dayak Ngaju disebut Oloh Masi.

"Lalu, ia juga berjasa besar dalam proses perjuangan hingga terbentuknya Kerajaan Banjar," ujarnya.
Djagabaya pula yang membantu Raden Samudera naik menjadi Raja Banjar pertama pada tahun 1526.

Lantaran intrik politik di Kerajaan Negara Daha (1437-1526), Samudera terpaksa disembunyikan ke sebuah kampung sunyi di Muara Barito (Barito Kuala). Persis setelah Maharaja Sukarama mengamanatkan cucunya, yakni Samudera untuk meneruskan tahtanya.

Djagabaya adalah orang yang mengetahui tempat persembunyian Samudera. Dia juga terus mengikuti perkembangan politik istana.
"Dialah yang kemudian mencari Raden Samudera untuk dirajakan. Dibantu rekannya yang lain. Yakni Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung dan Patih Kuin," ujarnya.

Namun, keputusan itu rupanya memicu gejolak besar. Pangeran Tumenggung yang ingin berkuasa tak tinggal diam. Pertempuran tak terelakkan.

Djagabaya lalu menganjurkan Samudera untuk meminta bantuan Demak. Saat itu, Demak telah menaklukkan kerajaan-kerajaan di Jawa. Menjadi kekuatan baru setelah Majapahit.

Demak bersedia membantu. Dengan syarat ia mau memeluk agama Islam. Syarat itu disanggupi.
Bala bantuan pun datang. Pasukan Demak bersama seorang penghulu yang akan mengislamkan raja dan rakyat tanah Banjar. (war/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi
#banjarmasin #Tahulah Pian