Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Plajau Ternyata dari Nama Camilan Menjadi Nama Jalan

Muhammad Helmi • Senin, 10 Oktober 2022 | 20:25 WIB
ASAL-USUL: Menurut orang yang pernah memakannya, plajau terasa seperti kacang mete.
ASAL-USUL: Menurut orang yang pernah memakannya, plajau terasa seperti kacang mete.
BATULICIN - Plajau bukan nama desa atau kelurahan. Ini nama jalan. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota.

Dari arah Simpang Empat ke arah Mantewe di kaki Meratus, di sana ada beberapa desa. Misalnya Desa Barokah dan Gunung Besar.

Warga sini lebih dikenal dengan sebutan orang Plajau. Ternyata, Plajau mengacu pada sebuah pohon.

"Kami biasa makan buah plajau waktu ke hutan," kata Cemple, warga Plajau.

Puluhan tahun lalu, kawasan ini masih berupa rawa dan hutan. Di tepi sungai, banyak tumbuh pohon plajau. Tinggi dan besar. Buahnya seperti kenari.

"Dikupas kulitnya, baru digoreng. Rasanya kayak kacang mete," ujar Cemple.

Waktu itu, dia dan teman-temannya masuk ke hutan mencari kayu untuk ditebang. Kayu favorit adalah ulin dan meranti. "Plajau nggak. Soalnya warnanya putih, tidak laku dijual," bebernya.

Fakta menarik, plajau adalah tanaman endemik Kalimantan. Bernama lain pestaspadon motleyi, masuk keluarga mangga-manggaan. Namun rasa bijinya justru mirip kacang-kacangan.

Semua asam amino esensial terkandung dalam bijinya. Sayang, tanaman ini sudah tidak terlihat lagi di Plajau.

"Saya melihat yang terakhir pada tahun 2000-an. Kalau di hutan masih ada. Tapi di Plajau sudah tidak," beber Cemple, pria paruh baya yang suka bertualang ke hutan itu.

Dia membenarkan, kalau plajau adalah tanaman asli Kalimantan. Tapi dia mengaku baru tahu, jika gizi bijinya sangat tinggi. "Dulu cuma kami jadikan cemilan saja," bebernya.

Pontianak sempat mengembangkan biji plajau menjadi tepung. Sebagai bahan biskuit dan sosis. Tapi keberadaan bahan baku agak sulit. Panen raya disebut hanya tiga tahun sekali.

Plajau sendiri sudah dinyatakan sebagai tanaman yang terancam punah.

Bahkan, anak-anak muda di Plajau sendiri tidak tahu kalau itu nama tanaman.

"Gak tahu," ujar Agus yang tinggal di Desa Gunung Besar. "Baru dengar, jadi itu tanaman?" tambahnya.

Begitu juga dengan Nina yang tinggal tidak jauh dari rumah Agus. "Kada (tidak) pernah mendengar ada tanaman plajau," ucapnya.

Selain penebangan, keberadaan plajau yang punah itu juga akibat pertumbuhan penduduk yang demikian pesat. Tahun 90-an, Plajau masih hutan rawa. Saat ini berubah menjadi permukiman padat. (zal/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian