Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Desa Karang Jawa di HSS Ternyata ini Asal Usulnya

Muhammad Helmi • Jumat, 7 Oktober 2022 | 15:51 WIB
SELAMAT DATANG: Selain nama Desa Karang Jawa, nama Jalan Kartawidana ini juga menyimpan cerita. FOTO : SALAHUDDIN/RADAR BANJARMASIN
SELAMAT DATANG: Selain nama Desa Karang Jawa, nama Jalan Kartawidana ini juga menyimpan cerita. FOTO : SALAHUDDIN/RADAR BANJARMASIN
KANDANGAN - Desa Karang Jawa berada di Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).
Nama desa ini diambil dari ujaran "pakarang Jawa", artinya hasil perbuatan orang Jawa.

Anggota tim ahli cagar budaya HSS, Rendra menceritakan, kala Raden Samudera berperang melawan pamannya Pangeran Tumenggung, ia meminta bala bantuan pada Kesultanan Demak.

Permintaan itu dipenuhi, tapi syaratnya Samudera harus masuk Islam jika menang. Kita tahu, Samudera akhirnya mengucap syahadat dan bertasmiyah menjadi Sultan Suriansyah. Itu tahun 1526.

Misi kelar, pasukan Demak ditarik pulang. Tapi sebagian memilih bertahan di Tanah Banjar.

Salah satunya Raden Kartawidana, seorang laskar kelahiran Sumedang. Dia kemudian diangkat menjadi penguasa di kawasan selatan hulu sungai.
Kartawidana dan rombongan berangkat menaiki perahu. Menyusuri sungai, mencari lokasi yang cocok untuk dihuni.

Dalam penyusuran itu, rombongan menjumpai perempuan cantik sedang mandi. Ternyata seorang putri raja, namanya Ciptasari. Yang sedang diasingkan karena penyakit kudung (kusta).

Kartawidana mengobatinya sampai sembuh. Belakangan, tempat itu dinamai Sungai Kudung.
Berseberangan dengan sungai, tak jauh dari balai penduduk asli, rombongan mendirikan perkampungan baru.

Pada malam hari, Kartawidana mengadakan pagelaran Wayang Kulit. Penduduk setempat tentu penasaran dan bertanya-tanya.

"Untuk memudahkan penerimaan masyarakat atas dakwah, Kartawidana meniru pendekatan kesenian ala Sunan Kalijaga. Lewat pertunjukan Wayang Kulit," jelas Rendra.
Seiring waktu, terjadi asimiliasi antara penduduk setempat dan pendatang. "Hingga dinamakan Kampung Karang Jawa," tambahnya.

Putri Ciptasari kemudian berganti nama menjadi Putri Syifa. Menjadi istri Kartawidana.

Di sini, pemeluk Islam terus bertambah. Sedangkan yang mempertahankan kepercayaan asli, memilih menyingkir. Masuk lebih jauh ke pedalaman, naik ke gunung-gunung.

Keturunan dari rombongan Kartawidana melahirkan banyak seniman dan pejuang. Seperti Tumenggung Antaludin, HM Yusi, sampai Brigjen TNI (Purn) Hasan Basry. (shn/by/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian #HSS