BANJARMASIN - Kampung Pangambangan atau Kelurahan Pangambangan berada di Kecamatan Banjarmasin Timur.
Sebelum menjadi permukiman padat penduduk seperti sekarang, Pangambangan pernah hendak dijadikan kawasan perkebunan buah-buahan.
"Keinginan itu dicetuskan pada zaman pemerintah Hindia Belanda," kata sejarawan Mansyur kepada Radar Banjarmasin, Ahad (18/9).
Data pemerintah kolonial mencatat, di Distrik Banjarmasin ada 32 kampung. Salah satunya Sungai Lulut Pangambangan.
Dulu Sungai Lulut memang bergabung dengan Pangambangan. Berbeda dengan sekarang yang terpisah. Pangambangan masuk wilayah administrasi Kota Banjarmasin dan Sungai Lulut masuk wilayah Kabupaten Banjar.
Mansyur kemudian mengutip hasil kajian Idwar Saleh, terbit tahun 1982. Diceritakan, pada abad 19 yang terlihat hanya sebuah hutan belantara.
Pada tahun 1856-1857, Sultan Adam sempat memerintah Kerajaan Banjar dan tinggal di Banjarmasin. Keratonnya didirikan di pinggir Sungai Martapura. Antara dua sungai yang ujungnya memotong Kampung Melayu Darat.
Sultan kemudian memerintahkan agar hutan di kampung terujung dibuka. Tujuannya untuk ditanami buah-buahan. Namun, kebun itu habis dirusak babi dan monyet.
Akhirnya, kebun buah-buahan diganti dengan kebun bunga-bungaan. Dan ternyata berhasil.
"Sampai sekarang. Jadi kembang-kembang yang kita lihat dijual di pasar-pasar itu berasal dari Pangambangan," tambah dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat itu.
Seiring waktu, reputasi kampung itu semakin harum. Nama Kampung Ujung Banua perlahan berganti menjadi Kampung Antasan Pengambangan.
Untuk memudahkan pengangkutan hasil perkebunan, dibuat terusan (antasan) yang tembus ke Sungai Lulut.
Akibat derasnya arus sungai, lambat laun terusan itu membesar. Perahu yang berukuran lebih besar pun bisa melintas.
"Para pekebun bunga mulai mendirikan rumah-rumah di sepanjang antasan. Akhirnya, berdirilah sebuah kampung yang diberi nama Pangambangan. Alias kampung orang-orang yang berkebun bunga," cerita Mansyur.
Pada tahun 1900, Pangambangan termasuk dalam jalur Martapura Lama yang menghubungkan antara Banjarmasin dan Martapura (Kayu Tangi).
Rutenya dari Pecinan Laut menuju Seberang Masjid, Kampung Melayu, Kampung Gusang, Ujung Benua, Pangambangan, Sungai Lulut, terus sampai ke Martapura.
Pembangunan Jalan Martapura Lama (sekarang Jalan Veteran) dipicu oleh Perang Banjar. "Agar gerak serdadu Belanda bisa lebih cepat, maka jalan ini dirintis," jelasnya.
Di lain pihak, armada Koninklijk Pakketvaart Maatschppij (KPM) semakin sering berlayar antara Surabaya dan Banjarmasin.
Ini memicu pembangunan pelabuhan baru. "Yakni Pelabuhan Marla (Martapura Lama), letaknya sekarang di Jalan RE Martadinata," tutupnya. (gmp/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi