Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pangeran Jaya Sumitra, Raja yang Menjadi Penasihat Sultan

Muhammad Helmi • Kamis, 15 September 2022 | 15:12 WIB
TELUSUR SEJARAH: Penulis bersama narasumber Donny Febryan Pratama. FOTO : JUMAIN/RADAR BANJARMASIN
TELUSUR SEJARAH: Penulis bersama narasumber Donny Febryan Pratama. FOTO : JUMAIN/RADAR BANJARMASIN
KOTABARU - Nama RSUD Pangeran Jaya Sumitra ditetapkan melalui SK Bupati Kotabaru nomor 060/463/Setda tertanggal 18 Maret 2019.

Radar Banjarmasin coba menelusuri, siapa sebenarnya Pangeran Jaya Sumitra ini. Hingga bertemu dengan Donny Febryan Pratama.

Dia adalah Ketua Korwil Lembaga Adat Kerajaan Pulau Laut.

Ditegaskan Donny, Pangeran Jaya Sumitra adalah raja pertama di Kerajaan Pulau Laut.

Segi keturunan, Jaya ternyata masih keturunan dari petinggi Kesultanan Banjar dan Kerajaan Paser.

Jaya adalah anak dari Pangeran H Musa yang merupakan adik ipar dari Sultan Adam Al-Watsiq Billah yang memimpin pada kurun waktu 1825-1857.

Dari perkawinan Pangeran H Musa dan Ratu Salamah binti Sultan Sulaiman, lahir Pangeran Panji, Pangeran Muhammad Nafis, Pangeran Jaya Sumitra dan Pangeran Abdul Kadir.

Singkat cerita, pada tahun 1845, Jaya menjadi Raja Kusan lV yang mengambil keputusan untuk memindahkan pusat kekuasaannya ke Pulau Laut. Tepatnya di Salino, sekarang Kecamatan Pulau Laut Tengah.

Namun wilayah kekuasaannya tetap mencakup wilayah Kusan dan Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu. Tapi untuk memudahkan penyebutannya, mengacu pada tempatnya, muncul nama Kerajaan Pulau Laut.

Setahun menjadi raja pertama di Kerajaan Pulau Laut, Jaya diminta pamannya Sultan Adam untuk menjadi penasihat Kesultanan Banjar.

"Karena diminta oleh pamannya untuk membantu pemerintahan, Pangeran Jaya Sumitra akhirnya menerima. Sedangkan di Kerajaan Pulau Laut yang dipimpinnya, digantikan oleh adiknya Pangeran Abdul Kadir sebagai Raja Pulau Laut ll," jelas Donny kemarin (14/9).

Setelah dirasa cukup menjadi penasihat raja, pada tahun 1861, Jaya kembali ke Kotabaru. Tidak begitu lama, karena pada tahun yang sama Jaya wafat.

Mengenai jabatannya sebagai raja di Pulau Laut, Jaya hanya sempat memimpin selama setahun. Kiprahnya lebih banyak di Kesultanan Banjar.

"Pada saat beliau menjadi penasihat raja, Pangeran Jaya Sumitra juga menjadi penghubung dengan Kerajaan Pulau Laut. Makanya saat Kerajaan Banjar bergejolak, banyak mendapat bantuan dari Kerajaan Pulau Laut," tutupnya. (jum/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Kotabaru #Tahulah Pian