MARABAHAN - Sebelum ditulis Belandean, dulu dieja Balandaian. Secara administrasi, desa ini berada di Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala.
Di sinilah Jaya Arja gugur kala melawan Belanda. Di Belandean pula sang panglima dimakamkan.
Siapa beliau? Dalam buku 'Sejarah Perjuangan Rakyat Barito Kuala' yang ditulis Maskuni dan kawan-kawan, diceritakan, Panglima Jaya Arja berjuang melawan penjajah bersama Panglima Wangkang.
Sementara Belandean adalah salah satu markas pertahanan pejuang dalam babak Perang Banjar Barito.
Sekitar tahun 1860, musuh melepas serangan balasan. Tak lama, markas di pedalaman itu bisa dikuasai Belanda.
Melihat gelagat yang kurang menguntungkan, menghindari kekalahan total, Panglima Wangkang memerintahkan anak buahnya untuk menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Sewaktu mereka kembali berkumpul, ternyata Panglima Jaya Arja tidak ada. Akhirnya diputuskan, malam itu juga mereka harus kembali ke Belandean.
Tiba di sana, semua terkejut... menemukan sosok yang dicari tak lagi bernapas.
Besoknya, Panglima Jaya Arja dimakamkan tak jauh dari markasnya (sekarang bernama Belandean Muara).
Panglima Jaya Arja merupakan pengikut setia Panglima Wangkang. Sudah beberapa peperangan yang mereka lewati.
Seperti saat penyerangan kapal Belanda di Sungai Barito. Lalu menyerang benteng Belanda di Banjarmasin dan Marabahan. Hingga saat mempertahankan pedalaman Ujung Panti.
Sepeninggal Jaya Arja, Panglima Wangkang masih harus berjuang untuk mempertahankan Benteng Mahang di Sungai Badandan.
Sejarah tak mencatat kapan dan di mana beliau dilahirkan. Yang pasti, sebelumnya dia cuma orang biasa. Bertani di sawah dan mencari ikan di sungai seperti orang kebanyakan.
Ketika perang berkobar sekitar tahun 1850 sampai 1872, Arja ikut ambil bagian. Karena gagah berani di medan tempur, masyarakat memberinya gelar panglima.
Itu bukan sekadar gelar perang. Itu juga sebuah penghormatan karena Arja dianggap bisa menjadi panutan orang banyak.
Pada akhirnya, Arja telah menunaikan amanat Pangeran Antasari, "Haram manyawarah lawan Walanda, waja sampai kaputing." (bar/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi