Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Monumen Gerobak Sapi di Pelaihari, Ingatkan Kisah Orang Tua Dulu

Muhammad Helmi • Selasa, 13 September 2022 | 12:21 WIB
GEROBAK SAPI: Monumen ini menjadi penyambut mereka yang datang ke atau pulang dari Pelaihari. FOTO:NORSALIM/RADAR BANJARMASIN
GEROBAK SAPI: Monumen ini menjadi penyambut mereka yang datang ke atau pulang dari Pelaihari. FOTO:NORSALIM/RADAR BANJARMASIN
PELAIHARI - Gunung Kayangan berada di Desa Ambungan Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut. Datang dari arah Pelaihari atau arah Banjarmasin, Anda pasti bertemu dengan patung ini.

Monumen itu menggambarkan seekor sapi besar yang menarik gerobak berisi hasil tani. Diikuti dua ekor sapi kecil di belakangnya. Di depan gerobak, ada seorang kusir. Di belakang ada seorang anak kecil berseragam sekolah.

Penelusuran Radar Banjarmasin, monumen ini dibangun pada masa Bupati Tanah Laut, Adriansyah. Pada periode pertamanya menjabat, sekitar tahun 2003. Sedangkan pembuatnya adalah almarhum Nurtumai Irian Bari. Dia adalah Kepala Bidang Kebersihan dan Keindahan Kota Dinas Permukiman dan Prasarana Daerah kala itu.

Sekarang, instansi ini berubah nama menjadi Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH). Tujuan pembangunan monumen untuk mengingatkan masyarakat bahwa Tanah Laut pernah mengandalkan gerobak sapi.

Dari sini, hasil pertanian dibawa dan dijual ke pasar. Gerobak sapi pernah berjasa untuk perekonomian Bumi Tuntung Pandang.

"Tanah Laut itu terkenal dengan kijang mas dan juga sapinya," kata Kepala Bidang Tata Kota dan Kebersihan DPRKPLH Tanah Laut, Gusti Dwi Erzandi Kusuma, kemarin (12/9).

"Dan Tanah Laut memiliki transportasi yang paling mumpuni untuk mengangkut hasil pertanian, yakni gerobak sapi," sambungnya.

Gunung Kayangan sengaja dipilih karena strategis. Warga Pelaihari yang berangkat atau pulang, mau tak mau harus melewati monumen ini. Seakan hendak diingatkan. "Awalnya dijadikan sebagai gerbang pintu masuk Tanah Laut, saat kawasan itu masih satu jalur," ungkapnya.

Pada zaman dulu, titik kumpul gerobak sapi ini berada di nol kilometer kabupaten. Tepatnya di Taman Pasar Lawas. Seiring zaman, penggunaan gerobak sapi mulai ditinggalkan. Walaupun masih bisa ditemukan di beberapa desa.

"Ikon yang mengingatkan pada Tanah Laut tempo dulu akan kami rawat. Agar generasi milenial dapat mengetahui bagaimana kondisi orang tua dahulu," tutupnya. (sal/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Tanah Laut #Tahulah Pian