Rumah bersejarah ini memiliki gaya arsitektur yang mewah pada zamannya. Memiliki atap yang tinggi sekitar 12 meter dan luasnya 20x20 meter.
Ada beberapa bangunan di area ini. Kalau dilihat dari atas berbentuk huruf U.
Kini rumah tersebut dihuni satu kepala keluarga. Misnawati, penghuni Rumah Batu menerangkan alasan dinamai Rumah Batu karena bahan bangunan rumah yang didominasi batu. Di sebagian dinding pada area depan, serta lantainya. Meskipun beberapa bagian rumah sudah mengalami kerusakan, bangunan berusia hampir seratus tahun ini masih berdiri kokoh. “Tidak pernah direnovasi. Cuma perbaikan di bagian atap karena bocor dan dicat,” ujar Misna.
Pemilik Rumah Batu ini merupakan pengusaha karet yang kaya raya pada masanya. “Walaupun rumahnya bergaya Eropa, bukan berarti yang membangun adalah orang Eropa. Hanya saja pemiliknya ini sering bepergian ke Eropa. Jadi terinspirasi membangun rumah bergaya Eropa seperti ini,” terangnya.
"Rumah bergaya Eropa pada zaman dahulu menggambarkan tingkat kemapanan ekonomi," tambahnya.
Pada tahun 1959 hingga 1963, rumah ini sempat digunakan sebagai pos penjagaan untuk keamanan dari gangguan gerakan Ibnu Hajar di Wilayah Balangan, atau yang disebut dengan para gerombolan. Dengan histori sejarahnya, Rumah Batu sejak tahun 2016 lalu ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kaltim wilayah Kalimantan.(why/gr/dye)
Editor : Muhammad Helmi