Bahan utama dilumatkan dengan sejumlah rempah. Sebut saja bawang putih, kencur, adas, kaldu bubuk, dan gula secukupnya. Biar lebih kental, adonan ini juga ditambahkan telur.
"Kacang hijaunya diblender dengan sedikit air, campurkan pula rempah-rempahnya," ujar Junai, salah seorang pedagang asal Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.
Disebut-sebut berasal dari jazirah Arab, sejarahnya, masih terkait erat dengan panganan tradisional di lingkungan Kesultanan Banjar.
Adonan kental ini kemudian dibentuk bulat-bulat, lalu digoreng hingga berwarna keemasan. Karena cita rasanya yang gurih, mageli cocok dijadikan sebagai pendamping nasi.
Sama halnya perkedel kentang atau jagung, mageli juga dijadikan sebagai pelengkap makanan utama.
"Seperti ketupat, soto atau sekadar nasi putih," tambah lelaki 38 tahun itu.
Camilan ini dipatok dengan harga yang terjangkau. Berkisar antara Rp500-Rp1.000 per butir.
Mageli kerap dijumpai di sejumlah kedai dan warung makan di Martapura. "Terutama di warung-warung nasi kuning yang kerap beroperasi pada pagi hari," tuntasnya. (tia/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi