Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dulu, Kayu Tangi Pernah Jadi Nama Ibu Kota Kesultanan

Muhammad Helmi • Selasa, 6 September 2022 | 11:38 WIB
JENDERAL: Potret Hasan Basry semasa muda. Namanya diabadikan menjadi nama jalan di Banjarmasin Utara.
JENDERAL: Potret Hasan Basry semasa muda. Namanya diabadikan menjadi nama jalan di Banjarmasin Utara.
BANJARMASIN - Secara administrasi menyandang nama Jalan Hasan Basry. Tapi oleh lidah warganya, lebih dikenal dengan sebutan Kayu Tangi.

Jalan ini menghubungkan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala, perbatasan antara Banjarmasin Utara dan Handil Bakti.

Lebih dari itu, jalan ini vital bagi perekonomian untuk lalu lintas barang dari Kalsel ke Kalteng.

Sejak kapan nama Kayu Tangi muncul dan apa latar belakangnya? Dosen sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur punya jawabannya.

Dia menduga, nama Jalan Hasan Basry mulai dipakai pada era Pelita I periode 1968-1973. Pelita adalah akronim dari pembangunan lima tahunan.

Tujuan pembangunan Jalan Hasan Basry adalah untuk menjadi akses baru menuju Batola. "Tepatnya sejak tahun 1970 kawasan ini semakin berkembang. Muncul permukiman dan jalan-jalan diperlebar," kata Mansyur kepada Radar Banjarmasin kemarin (4/9).

Nah, saat proyek perumahan rakyat dimulai, di kiri dan kanan jalan dibangun Jalan Kayu Tangi I dan II.

"Sebelum Indonesia merdeka, mengacu beberapa sumber, misalnya peta tahun 1916, belum tertera nama Kayu Tangi. Yang ada hanya nama Sungai Kidaoeng," jelasnya.

Seiring waktu, gedung-gedung bermunculan. Seperti kampus Universitas Lambung Mangkurat, rumah sakit jiwa (sekarang RSUD dr HM Ansari Saleh), SMPS (sekarang SMKN 2) dan Taman Budaya.

Namun, sebenarnya nama Kayu Tangi sudah muncul jauh sebelum itu. "Sejak abad ke-17 ketika Sultan Tahliullah menjadi Sultan Banjar," sebutnya.

Akibat konflik dengan VOC, keraton di Kampung Kuin dibumihanguskan pada tahun 1612. Sultan terpaksa menyingkir. Memindahkan pusat pemerintahannya ke Kayu Tangi. Sekitar 80 mil dari Sungai Barito. Sebelah barat Martapura.

Kayu Tangi sengaja dipilih karena lokasinya jauh terletak di pedalaman, berada di tanah seberang, lebih sulit untuk diserang Belanda.

Tahun 1623, sejarah mulai mencatat Kayu Tangi sebagai nama ibu kota kesultanan. Namun itu belum menjawab pertanyaan perihal asal nama ini.

Ternyata sebelum diberi nama Sungai Martapura, anak Sungai Barito itu dulunya bernama Soengai Kajoe Tangi.

Ini dicatat oleh almarhum Yusliani Noor. Dituturkannya, zaman dulu di tepian sungai ini banyak tumbuh pohon yang kayunya diberi nama tangi.

"Tapi belum ada riset mendalam, bagaimana ciri pohon kayu bernama tangi ini dan apa manfaatnya," tutup Mansyur. (lan/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian