Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Asal Mula Dinamai Kampung Basirih

Muhammad Helmi • Selasa, 30 Agustus 2022 | 14:32 WIB
MAKAM HABIB: Kubah Habib Basirih di Jalan Keramat Basirih, Banjarmasin Barat. FOTO:MUHAMMAD SYARAFUDDIN/RADAR BANJARMASIN
MAKAM HABIB: Kubah Habib Basirih di Jalan Keramat Basirih, Banjarmasin Barat. FOTO:MUHAMMAD SYARAFUDDIN/RADAR BANJARMASIN
BANJARMASIN - Kampung Basirih berada di Kecamatan Banjarmasin Selatan, di tepian Sungai Martapura.

Dinamai Basirih, karena dulunya di sini banyak tumbuh tanaman sirih. Tanaman merambat dengan nama latin Piper betle.

Di Basirih, sirih tidak tumbuh liar tetapi memang dibudidayakan. Menjadi komoditas untuk diperdagangkan.

"Jumlah pohon sirih yang ditanam di sini sangat banyak. Maka tak salah masyarakat sekitar pesisir sungai menyebutnya Kampung Basirih," ujar Mansyur, dosen sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat.

Apalagi orang-orang zaman dahulu memang senang menginang atau menyirih.

"Di Banjarmasin, hanya Basirih yang bisa menghasilkan pasokan dominan komoditas ini," tambahnya.

Posisi Kampung Basirih juga strategis untuk perdagangan lokal. Berada di tepian anak Sungai Barito yang bermuara ke Laut Jawa.

Sungai Basirih juga menghubungkan jalur pedalaman dengan anak sungai atau kanal buatan seperti antasan, saka, tatah dan handil.

Aliran-aliran sungai ini pula yang melatari penamaan perkampungan di sekitar Basirih. "Misalnya Kampung Antasan Bondan, Saka Mangkuk, Simpang Jelai dan lainnya," sebutnya.

Seiring waktu, terjadi perubahan. Islam menyebar pesat di Tanah Banjar.

"Awalnya Kampung Basirih dihuni masyarakat Dayak Ngaju dengan kepercayaan Kaharingan," jelasnya.

Hingga di daerah ini muncul seorang ulama besar, Habib Hamid bin Abbas Bahasyim. Kerap dijuluki pula sebagai Habib Basirih.

"Salah satu hipotesis mengapa Kampung Basirih dipilih sebagai tujuan dakwah Islam karena bertujuan untuk mengislamkan suku Dayak Ngaju yang mendiami daerah itu," jelasnya.

Islam disebarkan lewat dakwah dan perkawinan dengan penduduk setempat. Ditempuh Habib Abdul Kadir Assegaf, kakek dari Habib Basirih.

Para habib ini mulanya memilih tinggal di muara sungai atau perlintasan sungai. "Karena di sana pusat kegiatan Suku Ngaju. Jadi lebih dekat dan mudah untuk mendekati mereka secara personal dan kolektif," tutupnya. (gmp/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian