Tanggal sarat sejarah itu kemudian diabadikan menjadi nama sebuah lapangan sepak bola di Kabupaten Barito Kuala.
Sayang, banyak yang tidak mengetahui, tak jauh dari lapangan, persis di depan eks kantor DPRD ada sebuah situs bersejarah.
Itulah tiang pertama yang dipakai untuk mengibarkan bendera merah putih di Bumi Ije Jela. Di depannya, ada plang bertuliskan "Palagan 5 Desember".
Meski tampak kurang terawat, tiang ini masih kokoh. Tertutupi oleh rimbunnya pepohonan di sekitarnya.
Tentu saja, tiang ini dulunya tak berada di sini. Dulu berdiri tegak di depan rumah eks controluer Belanda (sekarang menjadi rumah dinas bupati).
Mengacu buku 'Sejarah Perjuangan Rakyat Barito Kuala' yang ditulis Maskuni dkk, pada 5 Desember, laskar Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dan masyarakat yang berjumlah 500 orang mendatangi pemerintah NICA (Hindia Belanda).
Tuntutan ditampik. Hingga terjadi pengambilalihan kekuasaan secara paksa.
Setelah kekuasaan berpindah, digelar rapat raksasa. Di sana, dikibarkan bendera merah putih. Diproklamirkan, bahwa Marabahan akan berdiri setia di belakang Republik Indonesia.
Setelah bendera Belanda diturunkan, merah putih dinaikkan. Diiringi lagu Indonesia Raya, dinyanyikan dengan dipimpin M Syahruddin dan H Yacob.
Tiang itu kemudian dijaga agar benderanya tak lagi diturunkan. Dikawal oleh anggota bekas Keigon Heiho yang bersenjatakan karabin dan granat tangan.
Pada hari itu juga, diputuskan untuk membentuk Dewan Markas BPRI sebagai badan perjuangan tertinggi di Marabahan. Selanjutnya, penerangan massal kepada masyarakat. Agar khalayak mengerti apa yang sedang terjadi.
Sedangkan para pemuda mengambil senjata ala kadarnya, berjaga menghadapi bahaya.
Benar saja, pada 6 Desember, serdadu NICA muncul di Sungai Negara. Ada tiga perahu yang berisi 30 serdadu, datang dari arah Hulu Sungai menuju Marabahan. Belum sampai di daratan, rumah-rumah penduduk di Kampung Lepasan sudah ditembaki.
Salah seorang pejuang bernama Muhtar sempat membalas. Tetapi hanya satu tembakan. Senjata miliknya rupanya macet.
Pertempuran berlanjut ke persimpangan dekat Marabahan. Salah satu peluru NICA mengenai tiang bendera. Mengakibatkan talinya putus dan merah putih terjatuh ke tanah. (bar/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi