"Tumenggung Jayapati selalu ikut bertempur di Hulu Sungai bersama Demang Lehman," kata zuriah sekaligus juru kunci makam Tumenggung Jayapati, Rahmadi.
Makam ini berada di Desa Abung Jayapati, Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).
Kala itu, Jayapati memimpin sekitar 120 prajurit. Pasukannya melawan penjajah di Birayang, sekitar tahun 1800-an. "Dalam sebuah pertempuran, markas dan rumah Jayapati dibakar Belanda," tambahnya kepada Radar Banjarmasin, pekan lalu (9/8).
Gara-gara ada pribumi yang berkhianat. Menunjukkan tempat persembunyian Jayapati kepada Belanda. "Pengkhianat itu bernama Amin. Dia terhasut karena iming-iming uang dan ancaman pembunuhan," kisahnya.
Menjadi buron, Jayapati bersembunyi di Hutan Kamuyang. Para penjajah terus memburu hingga ke pelosok. Dalam sebuah upaya pencarian, serdadu Belanda bertemu seorang pria yang ditanyai perihal keberadaan Jayapati.
"Padahal yang ditanya itu Tumenggung sendiri," tuturnya. Mereka sudah dikelabui. "Saat itu Tumenggung mengaku bernama Amal," sambungnya.
Dalam tulisan yang diabadikan di makam ini, diceritakan dua babak perlawanan.
Pertama, setelah perang yang dipimpin Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin di Benteng Madang, Kandangan, September 1860.
Tumenggung Jayapati bersiap di gudang logistik di Batang Alai untuk menyambut pasukan Demang Lehman.
Pasukan perlawanan hendak mengambil logistik untuk melanjutkan perlawanan. Mengetahui itu, Belanda mengirim letnan satu Von Ende dan opsir Van Den Horst bersama 40 serdadu.
Setiba di Desa Jati, mereka tidak mengecek gudang yang dimaksud. Malah terus bergerak menuju rumah Jayapati di Desa Rantawan.
Von Ende mendekat, ternyata di sana sudah dibangun sebuah benteng yang dijaga 120 prajurit dan beberapa lila (meriam). Peperangan pun pecah.
Namun Von Ende gagal menangkap Jayapati. Terpaksa mundur ke tangsi di Barabai. Hingga Von Ende berucap, "Jelas bahwa Jayapati masih hidup dan ia terlihat semakin kuat."
Kedua, pada tanggal 28 Oktober 1860, Belanda menerima informasi bahwa Demang Lehman dan Jayapati akan bertemu di Desa Jati, sehari setelah panglima perang itu berada di Desa Bulanin.
Kali ini Von Ende bersama Coevoet dan 60 serdadu merangsek. Mereka kaget melihat Demang Lehman berada di atas kudanya bersama Tumenggung Jayapati, Ki Demang Jaya Negara Seman, Diparaksa dan pejuang lainnya. Mereka ternyata sudah sangat siap menyambut kedatangan Belanda.
Banyak serdadu musuh yang tewas, hingga terpaksa mundur untuk kedua kalinya. Dari situ, pemerintah Hindia Belanda menetapkan Tumenggung Jayapati sebagai buronan yang akan divonis hukuman mati.
Namun, putusan itu tak kunjung terlaksana, sebab Jayapati tak pernah tertangkap. (Bersambung) (mal/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi