Didirikan oleh HM Nasir, HM Taher (Datu Kaya) dan HM Afif (Datu Landak). Kepanitiaan ini didukung Raden Tumenggung Kesuma Yuda dan Mufti HM Noor.
Pada mulanya, berdiri di Desa Pesayangan atau depan Pondok Pesantren Darussalam.
Pada zaman kolonial, selain menjadi tempat salat, masjid ini juga berfungsi sebagai markas pertahanan para pejuang dalam melawan Belanda.
Hingga penjajah membumihanguskan Kampung Pesayangan, Masjid Jami Martapura juga ikut terbakar.
Pada tahun 1280 Hijriah atau 1863 Masehi, muncul keinginan untuk membangun masjid yang baru di lokasi yang berbeda--lokasinya yang sekarang.
Menurut riwayat, Datuk Landak dipercaya mencari kayu ulin untuk tiang guru (tiang utama) masjid. Beliau mencarinya di daerah Barito, Kalimantan Tengah.
Begitu tiang ulin itu tiba di lokasi, pada 10 Rajab 1315 H (5 Desember 1897 M), pembangunan masjid dimulai.
Masjid ini memiliki struktur utama ulin, beratap sirap, dinding dan lantai dari papan. Seiring waktu, masjid ini dipugar dan diperlebar. Tapi struktur utamanya tidak berubah.
Pada tahun 1994, dalam perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad, Masjid Jami Martapura resmi berubah nama menjadi Masjid Agung Al Karomah.
Dalam renovasi terakhir, masjid ini kian megah saja. Dengan konstruksi beton, rangka atap baja, dan kubah yang dilapisi enamel.
Yang unik, di dalam masjid, masih terlihat struktur utama masjid lama. Dibiarkan tak dibongkar, agar bisa dilihat jemaah sebagai pengingat sejarah.
Salah seorang pengurus masjid, Rahmani menjelaskan, benda yang masih asli dari pembangunan awal adalah tiang guru, mimbar khatib dan dauh (beduk).
"Masjid Agung Al Karomah terakhir kali direhab pada tahun 2004, saat itu sekaligus pembangunan halaman dan taman masjid," ujarnya kepada Radar Banjarmasin. (ris/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi