Dari segi pariwisata, sumbangsih suku yang menghuni Desa Rampa di Kecamatan Pulau Laut Utara ini tak terperi.
Contoh, pada perayaan hari jadi kabupaten, selalu ada ritual Selamatan Leut.
Soal asal-usul itu ditanyakan langsung kepada Johansyah Darman, tokoh adat Bajau Samah di Kotabaru.
Dijelaskannya, Suku Bajau berasal dari Johor, Malaysia. Tempat berdirinya Kerajaan Bajau.
Kerajaan ini dirundung musibah ketika Putri Pa'pu menghilang. Memicu pergolakan internal.
Raja sontak menitahkan warganya untuk berpencar mencarinya. Berbekal ciri-ciri Pa'pu, banyak yang berlayar menuju timur.
Ada yang singgah ke Filipina. Ada pula yang terdampar di Pulau Lombok hingga ke Kendari. Hasilnya? Nihil. Sang putri tak pernah ditemukan.
"Dari penuturan cerita, putri kabur karena kecewa dengan raja. Karena tidak merestui hubungannya dengan Maruni, seorang nelayan biasa," kata Johansyah, Jumat (5/8).
Misi pencarian berubah menjadi misi bertahan hidup. Banyak yang memilih untuk menetap karena betah.
"Kalau orang tua saya berasal dari Kendari, Sulawesi Tenggara. Karena sudah terbiasa merantau, orang tua saya kembali berlayar. Berpindah lagi. Sekitar tahun 1930 sampai di Kotabaru dan menetap di sini," tambahnya.
Suku Bajau memang tak bisa dipisahkan dari laut. Mereka adalah pelaut dan pengembara yang ulung. Laut adalah kehidupan mereka.
Beberapa anggota Suku Bajau terus berdatangan ke Bumi Saijaan. Hingga pada tahun 1949 tercetus pendirian sebuah perkumpulan orang Bajau di Kotabaru.
Kala itu, Kepala Desa Rampa bernama Dome. Wakilnya adalah Darman, ayah Johansyah. Perkumpulan itu masih bertahan sampai sekarang.
Lalu, mengapa nama belakangnya ditambahi kata Samah? Menurut Johansyah, itu pesan orang tua mereka.
"Samah artinya sama rata. Tidak ada derajat dan kasta yang lebih tinggi. Tidak ada yang spesial," jelasnya.
Dia berharap, filosofi tersebut akan selalu dipegang oleh anggota sukunya, tua atau muda.
"Saya berharap, anak-anak Bajau Samah di Kotabaru bisa menjaga sejarah dan pesan ini," harapnya. (jum/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi