Bukan tanpa sebab. Pada zaman dahulu, daerah ini banyak dihuni orang Cina dari suku Biaju.
Daerah tersebut juga memiliki tanah berwarna merah. Hawanya juga cenderung panas.
Angsau pada masa itu belum bernama, tetapi terkenal aman dan tenteram. Sehingga orang-orang Cina betah tinggal di sana.
Mereka pun memberikan kabar kepada keluarga jauh. Mengajak mereka untuk pindah. Kabar tersebut ditanggapi, hingga mereka datang berbondong-bondong.
Seiring waktu, orang-orang Cina tersebut saling bertanya satu sama lain tentang nama daerah yang mereka tinggali. Seorang pun tidak ada yang mengetahuinya.
Akhirnya, salah seorang penduduk awal mengusulkan agar mereka berkumpul dan berembuk. Tujuannya untuk mencari nama yang pas.
Kemudian, pada suatu malam digelar rapat. Berbagai macam nama bermunculan. Namun setelah musyawarah panjang, diambil satu nama yang menurut mereka cocok untuk menggambarkan kondisi daerah itu: Angsau.
Angsau terus berkembang. Hingga suku-suku lain tertarik datang. Termasuk suku Jawa.
"Kedatangan suku dari daerah lain ini membuat Angsau menjadi ramai dan membuat penduduk awal (orang Cina) merasa tidak nyaman," ujar Lesmiyati, salah seorang warga Pelaihari.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke Bajuin, Parit Baru dan ada pula yang kembali ke tempat asalnya. "Tetapi ada juga yang memilih bertahan," jelasnya.
Saat ini, Kelurahan Angsau terus berkembang. Banyak berdiri kantor-kantor pemerintahan. Pedagang juga membuka kios dan lapak. (sal/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi